About


Get this widget:

Minggu, 25 Maret 2018

Secara Tak Sadar, Game Online Jadi Salah Satu Penyebab Kemiskinan




SAHABAT.PATELOTKU - Fenomena game onlinemerambah anak muda bahkan orang dewasa di Indonesia, termasuk Sulawesi Utara. Jenisnya pun beragam. Ada yang gratis, ada pula yang berbayar.

Ekonom Victor Lengkong mengatakan game online menjadi salah satu pemicu meningkatnya kemiskinan di Indonesia. "Sadar atau tidak, hal seperti ini menggerogoti pendapatan individu, termasuk kepala keluarga," ujar Lengkong dikutip Manado Post (Jawa Pos Group), Sabtu (6/1).

Dia menambahkan hal ini merupakan makna kemiskinan yang terselubung bagi individu pekerja yang ada di Sulut. Kondisi ini terjadi pada sebagian besar masyarakat menengah ke bawah di Sulut. Berbeda halnya dengan keluarga yang benar-benar kurang beruntung atau hidupnya pas-pasan tanpa dipengaruhi gadget.

"Namun mereka biaya sekolah gratis, kesehatan juga gratis. Seandainya upah mereka per hari 100 ribu rupiah saja namun tanpa potongan dan biaya kredit maka hidup mereka akan lebih sejahtera dibandingkan individu keluarga berpenghasilan Rp 5 juta sampai Rp 7 juta per bulan dengan berbagai pengeluaran yang memiskinkan," jelasnya.

Sementara itu, Sosiolog Sulut Lidya Kandowangko menambahkan fenomena game online kian marak. Bukan saja untuk anak dan remaja tapi sampai pada orang dewasa.
"Kecanduan ini dapat berdampak buruk bila tidak dikontrol dan mengganggu aktivitas yang produktif," kata Lidya.

Tentunya bermain online membutuhkan dana yang tidak sedikit untuk menyewa perangkat komputer di warnet atau membeli kuota. Pola konsumsi masyarakat bisa saja bergeser ke arah konsumtif untuk pemenuhan hobi yang tidak sesuai dengan pendapatan.
"Jadi jangan heran kalau ada anak atau remaja yang lebih senang dibelikan voucher kuota internet daripada dibelikan makanan," imbuhnya.

Pemerhati sosial ini juga menegaskan jika biaya untuk kebutuhan pokok malah digunakan untuk membeli kuota, maka hal itu dapat mengakibatkan kemiskinan secara tidak sadar. Sebab, pendapatan masyarakat yang tidak dialokasikan untuk kegiatan yang produktif namun pada kegiatan yang konsumtif.

Dia mengimbau masyarakat agar fenomena ini mendapat perhatian serius karena dapat menurunkan kualitas kerja, kurangnya keinginan belajar, kurangnya komunikasi dan kebersamaan keluarga. "Juga dapat memiskinkan," pungkasnya.

baca juga:


Related Posts:

  • MENYAYANGI ANAK YATIM Oleh: Muhamad Nur Hamid Hidayatullah(Santri PPM. Al-Ashfa Yogyakarta) إمسح رأس اليتيم (هكذا) إلى مقدم رأسه، ومن له أبٌ (هكذا) إلى مؤخر رأسه (روا… Read More
  • Laporan Penanggung-jawaban di Hadapan Allah  Rasulullah Saw bersabda: إن الله تعالى سائل كل راع عما عما إسترعاه، أحفظ ذالك أم ضيّعه؟ حتى يسأل الرجل عن أهل بيته. (رواه إبن حيان عن أنس) … Read More
  • Filosofi Masjid Dan Shalat Dalam “Cerpen” Isra’ Mi’raj Oleh: Muhamad Nur Hamid Hidayatullah (Santri PPM. Al-Ashfa Yogyakarta) Bulan Rajab adalah salah satu dari bulan-bulan yang dihormati (asyhurul h… Read More
  • Depan Belakang Seperti Setan Rasulullah Saw bersabda: إن المرأة تقبل في صورة شيطان، وتدبر في صورة شيطان. فإذا رأى أحدكم إمرأة فأعجبته فليأت أهله، فإن ذالك يردّ ما في نفسه. (رو… Read More
  • MENCARI PEKERJAAN SESUAI DENGAN KUALITAS DIRI Oleh: Muhamad Nur Hamid Hidayatullah أطلبوا الحوائج بعزة الأنفس، فإن الامور تجرى بالمقادير. (رواه إبن عساكرعن عبدالله بن بسر) Artinya: “Carila… Read More

0 komentar:

Posting Komentar