About


Get this widget:

Jumat, 09 Maret 2018

Santri Angkringan 2


Tangan Kumaidi beraksi kembali. Memijit-mijit tombol laptopnya sehinga keluar bunyi “cetak-cetok, cetak-cetok”. Tangannya tanpa jeda sedikit pun berlarian dari satu tombol ke tombol lain. Ya, seperti di awal aku katakan, dia itu master ngetik. Punggungnya bersandar di tembok. Kepalanya menghadap ke bawah arah layar laptop. Pikirannya sangat fokus pada satu tema yang ia tulis. Lapu aula pondok sangat terang menghangatkan tubuh Habibi yang telanjang dada tergeletak di tengah. Tangannya dengan kokoh memegangi HP-nya, menonton YouTube. Lantainya sangat bersih dan mengkilap.
            Akan tetapi, tanpa dinyana-nyana pikirannya membelot dari kehendaknya. Perkataan orang tuanya menyurupi saraf otaknya. Kuamidi tertuduk memegangi keningnya. Keningnya mengerut. Pusing. Dia pikir harus istirahat dulu. Sementara waktu ini dia butuh ketenangan. Biar bisa membuat keputusan apa yang akan dilakukannya.
            “Kir, ngangkring, yuk!” ajak Kumaidi kepada Zikir yang sedang sibuk main game online.
            Zikir mendongakkan kepala, “Angkringan mana, Di?”
            “Angkringan biasa kita nongkrong.”
            Tanpa ngomong, Zikir bangkit. Dia tampak semangat sekali. Dia sudah lama tidak makan di angkringan. Apalagi tempatnya yang sangat unik, di tengah sawah. Dan paling membuat semua orang berbondong-bondong ke sana adalah harganya yang sangat  murah di banding dengan yang lain. Padahal warungnya itu bagus seperti kafe-kafe.
            Mereka berdua naik motor menuju ke sana. Menyusuri jalanan yang ramai oleh mobil dan motor. Dipinggiran toko-toko dengan lampu hias yang warna warni menghiasi untuk menarik pelanggan mereka. Warung makan lebih penuh pelanggan dari pada toko yang lain.
            Dari belakang, Zikir terlihat sangat fokus memegangi setir motornya. Pas pertigaan pertama dari arah pondok An-Nur, motornya belok kiri. Masuk di perkampungan kecil. Jalan setapak gelap. Hanya lampu motornya Zikir yang membelah kegelapan itu. Di depannya sana, ada satu bangunan rumah yang lumayan besar. Dilapisi dengan cahaya lampu yang berwarna-warni. Tampat parkirannya juga terlihat penuh. Banyak motor dan mobil yang mampir di sana.
            Di depan pintu masuk angkringan pun ada dua penyambut pelanggan. Sangat-sangat berbeda dengan yang angkringan lainnya. Mata kuamidi tertuju pada para pelanggan yang duduk menikmati makanan mereka. Mereka datang beramai-ramai dengan teman mereka atau dengan keluarga. Berbincang-berbincang dan tertawa bersama. Indah sekali. Lampu yang tidak terlalu terang menambah kenyamanan dan ketenangan di tempat ini. Mahasiswa juga banyak yang datang ke sini sekedar untuk mengopi dan mengerjakan tugas.
            “Ini seharusnya bukan angkringan. Ini namanya kafe,” itu yang dipikirkan Kumaidi saat pertama kali datang ke sini. Sejujurnya, sejak pertama kali ngopi di angkringan ini, dia ingin membuat angkringan juga. Sepertinya peminat angkringan lebih banyak. Karena harganya yang murah, penggila kopi dan rokok juga banyak. Apalagi mahasiswa kere lebih bludak dari pada mahasiswa kaya.
            Kumaidi dan Zikir berjalan menuju meja paling pojok belakang. Mereka kalau pergi ke sini tempat favoritnya ya di sana. Kumaidi menaruh tas kecilnya di atas meja. Sedangkan Zikir masih di tempat pemesanan makanan. Kumaidi mengeluarkan HP. Membuka layarnya, melihat jam. Angka jam digital menunjukkan pukul 08.21 PM.
            Suara bersautan sana sini, berjejal memenuhi ruangan. Berisik. Ini satu hal yang sedikit mengganggunya. Tapi, mau bagaimana lagi, angkringan banyak pelanggan tentu banyak suara yang akan memekak telingamu. Kalau berisiknya karena berbicara sih wajar saja, tapi kadang, terutama waktu nobar bola, sampai ada yang teriak-teriak ketika tim favoritnya memasukkan bola. Bikin kaget dan sangat menjengkelkan. Biasanya yang geger adalah mereka yang berkelompok, sedangkan yang sendirian ataupun hanya berdua hanya bisa diam menerima kupingnya sakit karena teriakan mereka. Kaum minoritas tidak bisa apa-apa di sini selain pasrah.
            Zikir berjalan menghampiri Kumaidi yang sedang sibuk memainkan HP. Sarung coklat membalut tubuh bawahnya. Tampak serasi dengan kaos merah yang ia kenakan. Zikir lebih sering memakai sarung dari pada celana. Meskipun ke mall, dia akan memakai sarung. Dia tidak akan malu atau merasa aneh dengan orang sekelilingnya.
            “Di! Ngapain kamu diam saja dari tadi?” tanya Zikir merasa dicuekin.
            “Aku lagi mikir,” jawab Kumaidi seadanya.
            “Tenang saja. Nanti juga matang kopinya.” Zikir mengambil laptopnya dari dalam tasnya.
            “Bukan masalah kopi,” Kumaidi menegakkan kepalanya. “Ini masalah hidupku, Kir,” Kumaidi meluruskan pemahaman temannya.
            “Alay...”
            “Lho kok alay? Ini aku serius!” ucap Kumaidi dengan nada agak ditekan.
            “Ya sudah, silahkan cerita. Aku sudah siap menjadi pendengar yang baik ini lho,” canda Zikir kepada temannya yang sudah cemberut mukanya.
            “Sejak di rumah kemarin aku sudah stres. Ibu dan bapakku membandingkan aku dengan temanku yang sudah bisa cari uang sendiri. Sedangkan aku belum bisa memberi apa-apa kecuali hanya membebani mereka,” Kumaidi mencurahkan kegelisahan hatinya.
            “Kalau menurutku, orang tuamu tidak membandingkan dirimu dengan orang lain. Tapi mereka ingin memotivasi dirimu kalau kamu pasti bisa sukses juga seperti mereka. Sekaligus orang tuamu mengingatkan alasan kenapa kamu belajar, kamu bekerja, kamu harus berbakti kepada orang tua. Tidak lupa dengan orang tua ketika engkau sudah sukses kelak,” ucap Zikir penuh dengan kebijaksanaan.
            “Aku juga sempat berpikir seperti itu. Tapi terkadang emosiku membutakan akal sehatku, Kir. Sehingga aku tidak bisa berpikir positif.”
            “Nah... okay, mulai sekarang kamu harus lebih semangat belajar.”
            “Tapi kalau hanya belajar, tentu masalah ekonomiku kurang membaik. Aku anak dari orang tua yang miskin. Kalau aku hanya fokus pada pendidikan, sedangkan mereka membanting tulang mati-matian demi pendidikan aku, mending aku tidak usah kuliah saja. Sama saja aku menyiksa orang tuaku.”
            “kalau mikirmu seperti itu tidak apa-apa. Sekarang kita ambil jalan tengahnya. Kamu lanjutkan pendidikanmu. Mereka menginginkan kamu berpendidikan tinggi. Belajar dengan giat supaya prestasimu tambah baik. Di samping kamu kuliah, kamu sambilan apa gitu, untuk meringankan beban orang tua kamu? Atau mau cari beasiswa saja?”
            “Aku pengen sekali kerja atau bisnis. Tapi gerak-gerikku tidak bisa luas, Kir.”
            “Lho kenapa?” tanya Zikir.
            “Pondok menghambat gerak-gerikku.”
            “Jangan menyalahkan kondisi luarmu, Di. Kondisi luarmu itu tidak salah apa-apa. Yang bermasalah adalah dirimu. Kamu tidak mau menyibukkan dirimu dengan aktifitas yang mengantarkan kepada cita-citamu. Apalagi pondokmu sekarang kan lebih banyak bebasnya dari pada ngajinya. Paling malam saja kamu harus ada di pondok. Siangnya kamu bisa keluar. Cari kerja part-time kan bisa, Kir.”
            di tengah perbincanagan mereka, seorang pelayan datang dengan sebuah Nampan di tangan kirinya. Ada dua gelas kecil di atasnya dan satu mangkok besar berisi gorengan yang masih mengepulkan asap. Pelayan itu tersenyum sambil menaruh pesanan di atas meja. Kumaidi dan Zikir membalas senyumannya. “Terima kasih, Mas,” Ucap Zikir kepada pelayan.
            “Kalaupun part-time pasti kalau disuruh lembur, kita harus lembur kan? Pondok tidak akan mengizinkan,” Kumaidi melanjutkan ceritanya.
            “Memang kamu sudah minta izin ke pak Yai?” tanya Zikir.
            “Belum. Hehe....” Kumaidi cengar-cengir.
            “Lha kamu saja belum izin kok mau pergi. Ya tidak boleh.”
            “Kalau orang kerja itu tidak enak. Harus ikut orang. Disuruh-suruh. Aku bukan tipe orang seperti itu. Aku orangnya keras kepala dan seenaknya. Tidak suka diatur-atur.”
            “Berarti kamu harus berbisnis, Di. Bisnis sekarang lho banyak. Bahkan ada yang tidak memakai modal sama sekali. Kamu juga dulu sudah pernah nyoba bisnis ‘kan?”
            “Iya, sudah pernah,” Jawab Kumaidi kemudian meneguk kopinya.
            “Terus kenapa tidak dilanjutkan?”
            “Hasilnya tidak besar, habis untuk makan dua hari, Kir.”
            “Namanya saja usaha pertama kali, ya gaji tidak seberapa. Memang harus sabar, Di.”
            “Lukisan itu sedikit peminatnya. Ramai kalau musim wisuda atau musim kawin saja. Selain itu sepi, tidak ada yang mesan. Bisnis lukisan itu cocoknya untuk sambilan. Aku pengen cari usaha yang kira-kira dibutuhkan dan disenangi banyak orang.”
            Zikir terdiam. Dia berpikir jalan keluar bagi Kumaidi. Kumaidi pun terdiam. Pikirannya sekarang buntu.            Jalan keluar apa yang harus dia buat. Tangan Kumaidi meraih cangkir kopi lalu meneguknya sedikit. Memperencer jalan pikirannya.
            Zikir menyangga dagunya dengan tangan kanan. Otaknya berputar keras tentang usaha bisnis yang pas untuk temannya. Kedua tangannya di belakang menopang tubuhnya. Kepalanya terangkat menghadap atap genteng. Dadanya naik turun lembut dan pelan.
            “Mending aku buat angkringan saja!” suara Kumaidi membuyarkan lamunan Zikir.
            “Sudah yakin kamu?” tanya Zikir.
            “Bismillah. Aku yakin,” jawab Kumaidi dengan sangat mantap.
            Zikir melirik jam tangannya. Jarum jam yang paling kecil menunjuk pada angka 10. Itu artinya mereka harus pulang. Sudah malam. Kalau tidak balik pondok bisa dikunci nanti gerbangnya. “Pulang, yuk!” ajak Zikir kemudian.
            Kumaidi meng-iya-kan.
            Suasananya masih sama seperti pertama kali masuk ke sini tadi, ramai dan berisik. Pelanggannya tidak sepadat tadi. Kumaidi berjalan di depan Zikir menuju pintu keluar. Sampah-sampah bungkus rokok dan piring serta gelas berserakan di atas meja. Kemudian seorang pelayan cewek menghampiri meja yang sudah kosong dan membersihkannya.
***
Matahari sudah setinggi tombak. Cahayanya pun menyilaukan mata. Mata Kumaidi menyipit karena cahayanya. Seperti biasa, berdiri di jendela saat pagi hari. Awan dan langit terlihat tidak jelas; langit tidak berwarna, awan pun tidak mengumpal. Warna keduanya bercampur menjadi satu.
Tidak ada burung ataupun pesawat yang lewat di angkasa. Sepi sekali sesepi pondok. Sampai saat ini pun santri yang masih di rumah belum balik ke sini. Zikir masih tidak sadarkan diri dari mimpinya. Dengkurannya lirih mengiringi kehampaan. Setidaknya tidak terlalu sepi.
Kumaidi membuka laptopnya. Menyelesaikan cerpennya. Dia harus mempercepat cerpennya karena mau dikirimkan ke redaksi. Kalau tidak terselesaikan dengan cepat maka dia tidak akan bisa makan dan jajan. Ada pepatah konyol yang pernah ia dengar dari teman pondoknya waktu masih MA, “Paijo Paijan, ora kerjo ora jajan”. Artinya, kita tidak bekerja maka kita tidak bisa makan atau membeli sesuatu. Mau makan bagaimana? Wong uang tidak punya.
Jari-jemarinya mengetik lebih cepat dari biasanya. Halaman cerpennya sudah tigapuluh. Melebihi persyaratan dari redaksi yang hanya tiga halaman. Kumaidi tidak memperdulikan itu. Yang penting nulis dan kirim. Dia belajar dari kisahnya seorang Kiai dari Rembang. Beliau adalah Gus Mus (Mustafa Bisri). Seorang seniman, budayawan sekaligus seorang Kiai. Mulanya Gus Mus ingin menulis cerpen di koran tertentu. Yang namanya cerpen paling banter halamannya sekitar dua sampai sepuluh halaman – paling wajar. Tetapi beliau menulis cerpen sampai seratus halaman lebih. Gus tidak memperdulikannya. Terus istiqamah menulis dan nekat dikirim ke sana. Apa yang terjadi? Cerpennya diterima dan diterbitkan secara bersambung. Kisah itu yang membuat Kumaidi terus menulis meski syarat dari suati redaksi aneh-aneh yang hanya menghambat ide kreatifitasnya – menurut Kumaidi.
Satu halaman, dua halaman dan berhalaman-halaman dia tambahkan di cerpennya. Sebenarnya cerpen itu dibuat berdasarkan pengalaman pribadi cuma nama dan latar saja yang disamarkan. Sekarang tinggal peleraian yang harus dia selesaikan.
Di tengah-tengah menulis peleraian, melintas di pikirannya tentang pembicaraanya dengan Zikir tadi malam. Dalam hatinya ingin sekali segera mengeksekusi rencana bisnisnya itu. Tapi dia tidak boleh tergesa-gesa. Dia harus menyelesaikan cerpennya terlebih dahulu. Setelah selesai dengan tulis-menulis, dia akan mengfokuskan diri dengan angkringan.
Di samping itu, Kumaidi juga mikir kalau kopi angkringan itu sudah mainstream. Dia ingin cari sesuatu yang berbeda dengan lain. Sesuatu yang belum ada dan itu yang seharusnya dibutuhkan pelanggannya. “Entahlah. Itu dipikir nanti saja sampai cerpenku kelar,” batinnya.
***
Setelah dua hari dia mengetik bagian akhir kisah cerpennya, dia langsung mengirimkan naskahnya yang berjumlah enampuluh halaman ke redaksi tertentu. Dia sudah pasrah. Diterima tidak diterima itu urusan belakang. Yang penting usaha dulu.
Selanjutnya dia ingin benar-benar fokus memikirkan usaha angkringan yang masih tersusun rapi di dalam benaknya. Satu hal yang paling membuatnya bingung adalah mencari sesuatu yang berbeda dengan yang lainnya. Kumaidi sudah mencari informasi dari berbagai sumber media tentang ide kreatif berbisnis angkringan. Tapi tidak banyak informasi yang menunjukkan keunikannya. Kebanyakan hanya sebatas kekereatifan tempatnya, sedangkan untuk menu makanan – terutama kopi – belum ada yang unik.
Otaknya dipaksa kerja Rodi berpikir kreatif. Matanya terpejam rapat. Dahinya mengerut dan tangannya menggenggam ditempelkan hidung. Duduk termenung di depang teras pondok. Tidak ada ide. Dia tidak menemukan ide. Kali ini benar-benar buntu. Tidak seperti ketika sedang menulis, ide unik selalu muncul tanpa diminta. Mungkin karena ini adalah hal pertama baginya bahwa dia harus benar-benar bertarung mempertahankan eksistensi angkringan ke depan supaya tidak kalah saing dengan orang lain.
Malam semakin mendalam menggoda setiap manusia terlelap dengan rencana masing untuk hari esok. Suara jangkrik belum pernah terdengar di telinga Kumaidi semenjak di Jogja. Entah karena Jangkriknya sudah punah mungkin. Senyap sekali. Hanya saura ketukan jarum jam yang menempel di atas pintu kamarnya.
Seolah-olah malam ini hanya Kumaidi yang masih terjaga. Sebenarnya kantuk sudah berhasil merenggut semangatnya. Tapi dia paksakan bertahan berkelana mencari sesuatu yang “Nyeleneh” untuk angkringan.
Memori yang terbenam di dalam saraf otaknya, dia gali kembali. Siapa tahu ada informasi penting. Mulai dari kelas MI sampai kemarin dia liburan di rumah. Memori lama tidak bisa begitu jelas dia akses. Hanya kenangan waktu di rumah, saat bersama dengan orang tuanya, masih sangat jelas di kepalanya.
Dirinya ingat ketika dibuatkan kopi oleh ibunya. Kopinya sangat berbeda. Dia kaget saat pertama meminumnya. Belum pernah dia meneguk kopi senikmat itu. Rasa Jahe yang diseduh dengan kopi sangat khas sekali. Kata Bapaknya “Kopi ini bisa buat pengobatan, Nang. Belum ada kan kopi Jahe senikmat ini?” ketika sedang menikmati kopi jahe di waktu pagi.
“Okey. Aku ambil kopi Jahe resepnya Ibu saja untuk angkringanku,” ucap Kumaidi kemudian.
Jam sudah menunjukan pukul 04. 43 pagi. kantuk yang melandanya selama tiga jam tadi sudah tidak terasa. Ia mungkin menyerah untuk merobohkan tekat Kumaidi memikirkan bakal bisnisnya. Kumaidi tidak ingin tidur dulu. Ada kewajiban yang harus dilaksanakannya. Dia bangkit menuju ke kamar mandi dengan langkah yang pelan. Energinya sedikit banyak terkuras karena memikirkan bisnisnya dan tidak tidur.
Kemudian Kumaidi berdiri tegak di depan aula menjalankan shalat Subuh. Dengan sangat khusuk mengucapkan takbir. Pandangannya tertunduk. Menatap lekat tempat sujudnya. Surat Al-Fatihah mengisi kehampaan hatinya. Dia coba menghayati makna per-ayat. Sampai di ayat yang ke enam gemuruh dalam dadanya tidak bisa ditahan lagi, mengalir air matanya dengan sangat cepat jatuh ke sajadahnya. Dia takut selama ini langkahnya tidak sesuai dengan jalur Allah. Ayat inilah perantara dia berdoa memohon kepada Allah untuk membimbingnya.
Isak tangisnya terus berlanjut sampai dia mengucapkan salam yang ke dua. Diusapnya sisa air matanya yang mulai agak mengering di pipinya. Sementara itu, teman-temannya mulai pada bangun dan mengambil air wudlu. Suara-suara kehidupan pun mulai terdengar di pondok ini setelah semalaman mati ditinggal sukma penghuninya. Cekikikan juga mengalun lirih dari salah satu kamar. Entah kamar mana, Kumaidi tidak bisa memastikan.
Kumaidi mengangkat ke dua tangannya ke atas menghadap langit. Sedangkan wajahnya tertunduk ke bawah. Bibirnya bergetar lirih memanjatkan doanya kepada Allah. Dia adukan semua permasalahan yang sedang dia hadapi termasuk tentang bisnis angkringannya itu. “Semoga Engkau lancarkan dan diberikan manfaat barakah di dunia dan akhirat, ya Allah,”  pintanya di akhir kalimat doa kemudian dia menutup permohonan itu dengan bacaan surah Al-Fatihah.
Kumaidi beranjak dari tempat duduknya. Teman-temannya sudah banyak yang berjejer di belakang, duduk sambil membuka Al-Quran. Pondoknya ini kalau masalah shalat itu ditaruh di waktu bagian akhir. Kumaidi tidak tahu mengapa harus ditaruh di akhir terus. Apa tidak takut kalau nanti kehabisan waktu?, atau karena ada suatu urusan mendesak sehingga menyebabkan diri mereka sibuk sehingga waktu shalatnya hilang? Itu yang dikhawatirkan Kumaidi. Makanya tadi shalat duluan. Tidak ikut berjamaah. Dia lebih shalat di awal waktu, karena posisinya yang sangat luas sehingga bisa menghayati shalatnya. Tapi kalau shalat di akhir waktu apa bisa menghayatinya?
Kumaidi duduk di pojok kamar, tempat tidurnya. Memandangi beberapa kitab yang tergeletak di atas meja kecilnya. Dia sangat suka sekali dengan yang namanya buku – apalagi buku yang tebal – tertumpuk atau berserakan di dekatnya, meskipun tidak dibaca. Ada semacam rasa kagum kepada penulis yang telah membagi ilmu mereka kepada orang lain lewat tulisan. Baginya mengkoleksi buku adalah langkah awal untuk mencintai ilmu. Nanti pada akhirnya pasti akan timbul rasa ingin membacanya. Pada awalnya Kumaidi juga hanya mengkoleksi buku-buku, tetapi pada akhirnya dia ketagihan dengan membacanya. Sampai sekarang dia sangat keasikan membaca karya-karya intelektual orang lain.
Saraf otaknya tersangkut kembali memikirkan bisnisnya. “Okey, sekarang bisnis itu yang akan aku ambil. Tapi dari mana modalku? Aku tidak punya modal untuk beli gerobaknya. Belum lagi nanti beli bahan-bahan makanannya,” keningnya mengerut. “Kalau aku minta sama orang tua tentu tidak bisa. Lagian aku kerja kan untuk meringankan orang tua. Aku tidak mau melibatkan mereka dengan masalahku....”
“Tapi kalau aku tidak minta ke mereka, modal dari mana coba?”
“Masak pinjam bank? Aku tidak berani. Apalagi kalau nanti aku tidak bisa membayar hutangku bisa hancur hidupku karena semua akan disita.”
Kumaidi sibuk berbicara dengan pikirannya sendiri. “Aku harus ikut orang. Ya, aku harus kerja di tempat orang lain,” batinnya memutuskan langkah awalnya. Dia berencana nanti siang dia akan mencari pekerjaan. Kumaidi melihat jam dinding di atas pintu kamarnya, menunjukan pukul 06. 38 pagi. kemudian dia merebahkan tubuhnya di atas kasur tipis. Matanya terpejam. Nafasnya sedikit lebih cepat. Kantuk yang dari tadi tidak menampakkan hawanya sekarang mulai menyerbu pertahanan Kumaidi. Dunia sedikit demi sedikit melebur hilang dari pikiran dan kulitnya sampai akhirnya dia benar-benar hilang sendiri.
***
Kumaidi sudah berpakaian rapi. Baju Kemeja warna biru dan celana hitam terlihat sangat cocok menempel di badannya. Rambut hitam mengkilap karena minyak rambut Gasby menambah aura ketampanan di wajahnya yang lonjong. Kumaidi berjalan dengan gagah menuruni tangga. Tas cangklong yang dia gantung di pundak sebelah kanan melambai-lambai sesuai dengan langkah kakinya.
“Bismillah. Ya Allah, bantu hamba-Mu dalam mencari pekerjaan. Berikan pekerjaan yang halal bagi hamba. Amin,” pintanya kepada Sang Maha Memberi sebelum dia menarik gas motornya.
Terik matahari menyengat tangannya yang sedang memegangi setang motornya. Menyusuri kota Yogyakarta seorang diri, dari padi hingga siang. Tapi belum juga nemu tempat pekerjaan yang ada lowongan kerja. Keringat sebesar biji janggung menetes keluar dari pori-pori kulitnya yang sawo matang itu. Bajunya menjadi basah karenanya. Sesekali dia berhenti di warung untuk membeli minuman menghilangkan dahaga.
Meski begitu, dia harus terus mencari pekerjaan hingga maghrib menjelang. Kalau bisa secepat mungkin dia bisa memiliki pekerjaan. Sebab dia mesti mengumpulkan uang untuk modalnya berbisnis angkringan. Tapi sepertinya takdir belum menjawab usahanya. Dia pulang dengan tangan hampa. Pikirannya sangat kacau terpancar dari ekspresi wajahnya.
“Aku tidak boleh menyerah begitu saja. Ini baru permulaan. Aku yakin besok akan dapat pekerjaan,” gumamnya ketika motornya berhenti di parkiran depan pondok.
Kumaidi merebahkan tubuhnya di tengah aula, menikmati angin yang tidak begitu terasa. Tangannya merogo saku celana, mengambil HP-nya. Dia ingin tanya-tanya ke teman kampusnya. Mungkin ada yang tahu informasi pekerjaan, batinnya.
Satu persatu teman kampusnya dia chat. Dia juga ikut bergabung dengan group-group WA. Dia yakin dari sekian banyak orang pasti ada yang tahu info lowongan kerja. Jari jemarinya sibuk mengetikkan kalimat pertanyaan “Kamu tahu info loker nggak?”. Beberapa pesan darinya ada yang langsung dibaca dan ada yang masih centang satu atau dua.
“Maaf, Di. Aku tidak tahu info lowongan kerja,” balasan dari salah satu temannya.
Bahkan malah ada yang tanya balik. “Loker itu apa, Di?”
“Loker itu singkatan Lowongan Kerja,” jawab Kumaidi singkat.
Kumaidi tersenyum kecil melihat ada orang se-kuper temannya tadi.
Temannya yang sudah bales chatnya mengatakan tidak tahu soal info lowongan kerja. Lantas kemudian dia putus asa. “Kan masih ada yang belum balas. Mungkin mereka malah tahu tentang info yang aku butuhkan,” batinnya.
Kumaidi bangkit dari istirahatnya. Kepalanya menoleh ke sekeliling aula. terlihat Habibi sangat khusuk duduk di depan aula sedang membaca kitab Al-Quran. Kumaidi teringat kalau dia belum shalat ashar. Dilihatnya jam dinding yang menempel di depan aula, menunjukkan pukul 04.30. Kumaidi bersyukur karena dia belum kehabisan waktu shalat. Bergegas dia langsung menuju kamar mandi untuk sekedar membasahi tubuh kemudian berwudlu.
Setiap hari, dari pagi hingga sore dia habiskan untuk mencari pekerjaan untuk modal awal dia mendirikan bisnis angkringan. Hitung-hitung dirinya belajar bagaimana mengatur perusahaan. Bagaimana cara bersosialisasi dengan para pelangaan. Kuamaidi tidak tahu sama sekali tentang dunia perbisnisan dan pekerjaan. Ini adalah pengalaman pertamanya keluar dari dunia tulis menulis.
Di samping itu, pondok sudah mulai ramai. Banyak santri yang sudah bosen di rumah dan balik ke pondok. Sudah barang tentu kardus dan jajanan tergeletak di setiap kamar. Mereka berkumpul melingkar menikmati jajanan dari rumah sambil mengobrol dan tertawa bersama. Sedangkan Kumaidi hanya tiduran di dalam kamar mendengar ocahan mereka. Ya, Kumaidi tidak ingin bergabung dengan mereka. Mereka anaknya orang kaya yang bergelimang harta. Mau ini, bisa, beli baju, okey. Makan enak, setiap saat. Untuk bayar SPP pondok sebesar limapuluh ribu saja Kumaidi harus tidak makan selama empat hari karena uangnya habis untuk membayar. Kumaidi minder.
“Ya Allah, bantu hamba-Mu untuk meraih cita-cita hamba,” sepenggal kalimat doa yang dia panjatkan di dalam hatinya, menyadari bahwa dirinya tidak mampu untuk melakukan apapun kecuali atas bantuan kekuatan Allah.
***
Setelah berusaha keras ke sana kemari menyusuri setiap warung makan, toko, mall, sampai tempat karaoke, Kumaidi menemukan toko yang mau menerimanya. Tokonya memang tidak terlalu besar dan mewah, tapi Kumaidi rasa gajinya lebih dari cukup untuk mengumpulkan modal. Kumaidi tidak mau munafik kalau uanglah yang dia butuhkan saat ini. Kerja untuk apa kalau bukan untuk uang?, ucapmya ketika mengobrol dengan Zikir, sahabatnya.
Sekarang ini kesibukannya berbeda dengan yang lalu. Saat ini setiap pagi dia harus berangkat ke tokonya. Pulangnya jam sembilan malam. Terkadang juga dia harus menginap di toko karena ambil lembur. Meski letih menyambar jasmaninya, tapi dia harus tetap berjuang. Yang ada dalam otaknya sekarang adalah “Aku harus sukses!”
“Mas, ada makan anjing tidak?” tanya salah satu pembeli waktu Kumaidi sedang beres-beres pulang karena jam kerjanya sudah habis.
“Ada mbak,” jawabnya tanggap menghampiri pembelinya.
Pembelinya tampak bingung melihat beberapa jenis makanan anjing yang terpampang di dalam lamari kaca. “Yang bagus mana, Mas?” tanya mbak pembeli yang mengenakan kaca mata dan jaket warna orange.
“yang bagus untuk anjing biasanya itu ini mbak,” Kumaidi mengambilkan satu kemasan sedang. “Royalcanin yang bagus untuk anjing, Mbak. Tapi harganya memang yang mahal.”
“Memang berapa harganya?”
“1,5 kilogram dog chihuahua 28 Rp. 200,000. Kalau 1,5 kilogram dog shih tzu 24 Rp. 170,000. Kalau 1,5 kilogram dog Yorkshire Terrier 28 Rp. 170,000. Kalau 3 kilogram puppy babydog 28 Rp. 300,000. Dan 3 kilogram puppy mini junior Rp. 270,000,” Kumaidi membacakan daftar harga. “Bagaimana, Mbak?”
Mbaknya diam sejenak sambil melihat daftar harga yang disodorkan Kumaidi. “Kalau yang lebih murah ada, Mas?” tanya mbaknya sambil nyengir malu-malu kucing.
“Ada, Mbak. Sini mah lengkap. Sebentar saya ambilkan dulu mbak,” canda Kumaidi. Tubuh Kumaidi membungkuk mengambil makanan anjing yang ditata di rak paling bawah. Tangannya meng-Gayoh kemasan paling depan. “Ini  Dog Food Canine Selection Repacking 1 kg harganya 34.000.”
“Ya sudah, Mas. Saya ambil yang ini saja,” kata mbaknya tanpa berpikir dulu sambil menunjuk ke makanan anjing yang paling murah.
Kumaidi lantas mengambil keresek hitam. Tangannya dengan lincah membuka keresek tersebuk dan memasukan barang yang sudah dibeli pelanggannya. “Terima kasih banyak, Mbak.”
“Sama-sama, Mas.”
***
Empat bulan terlewati dengan suka dan duka bekerja dengan orang lain. Dia juga dimarahi bosnya karena sering lupa dengan nama-nama produk yang dijual. Bagi Kumaidi, itu adalah hal yang wajar. Teman-temannya juga bilang resiko ikut orang ya dimarahi bosnya.
Tapi karena kesabaran dan kegigihannya, sekarang dia menerima hasilnya. Uang gajian yang selama ini dia kumpulkan sudah bisa untuk membeli satu gerobak kecil dan menu-menu makanan ala angkringan. Kumaidi tidak menyangka ada uang enam juta tergeletak di depannya setelah dia membongkar celengan Kelinci yang dia beli sejak gajian pertama.
Pagi hari menyingsing, Kumaidi langsung pergi ke pasar mencari keperluan bahan-bahan dagangannya nanti malam. Terutama Jahe merah dan Peka – yang biasa buat campuran minuman kacang hijau. Kakinya berjalan pelan menjelajahi jalan setapak di tengah pasar sambil melihat-lihat kalau ada jahe merah. Orang-orang – terutama yang emak-emak – riuh memenuhi pasar. Suara cerewet dan cempreng ala emak-emak juga lengkap di tengah semerbak khas pasar. Penjual juga sibuk meladeni pembeli yang kebanyakan ngeyel menawar barang dagangan.
Kumaidi terus melangkah menerobos gerombolan emak-emak bagai elang yang membelah awan di angkasa. Kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri memperhatikan setiap dagangan yang di hamparkan. Sudah sejauh ini dia belum ketemu dengan Jahe merah. Saking bingungnya, dia bertanya kepada salah satu penjual ikan bakar.
“Mbah, saya mau tanya. Kalau yang jual Jahe merah di sini ada tidak ya?”
“Di sana, Nak,” jawab nenek penjual ikan bakar sambil menunjuk ke arah kanan Kumaidi.
“Terima kasih, Nek,” ucap Kumaidi menyunggingkan senyum ramah kepada nenek tadi.
Setelah berjibaku dengan bermacam-macam perkara yang ada di pasar, mulai dari berdesak-desakkan, bau bawang merah dan bawang putih, dan bau amis ikan, kumaidi keluar dengan menenteng dua keresek putih besar yang tak lain isinya adalah bahan-bahan dagangan.
Kumaidi tidak langsung pulang ke pondok. Karena masih ada satu yang dia butuhkan. Gerobak angkringan. Dia memacu kuda besinya yang sudah lansia dengan kecepatan yang paling tinggi – sesuai kapasitasnya. Dia ingin pergi ke tukang kayu. Di daerah pondoknya ada tiga toko kayu dan mereka juga melayani pemesanan pembuatan lemari, meja dan lain-lainnya.
“Pak, ada gerobak angkringan yang kecil tidak?” tanya Kumaidi kepada Bapak-bapak yang sedang mengecak pintu.
“Silahkan masuk, Mas,” kata bapak parobaya mempersilahkan.
Kumaidi masuk ke dalam toko dan melihat-lihat gerobak yang sudah jadi. Dengan jeli dirinya memeriksa satu persatu gerobak. Bahkan dia harus membungkuk ke bawah untuk mengetahui keadaan bagian bawahnya. Dia harus mendapatkan gerobak yang paling baik.
Bapak yang mempersilahkan tadi berdiri di belakang Kumaidi, memperhatikan gerak-gerik pelanggannya itu. Di toko ini hanya ada bapak itu. Tidak ada karyawan lain. Mungkin karena toko ini hanya milik beliau dan beliau tidak mau mencari karyawan. Bangunan berdinding kayu dengan ukuran yang lumayan besar adalah bukti betapa semangatnya pemiliknya untuk membesarkan tokonya. Meskipun tubuhnya termakan usia namun jiwa mudanya masih kekal di dada.
Toko ini adalah toko pertama yang disambangi Kumaidi karena memang jalurnya lebih dulu dari arah pasar. Di samping toko ada pemakaman umum yang besar. Meski begitu, tidak mempengaruhi aura toko. Malah terlihat berwibawa.
Kumaidi bingung untuk menentukan gerobak mana yang akan dia beli. Semuanya bagus dan sesuai selera. Ukurannya juga pas. Kepalanya menoleh memandangi satu persatu gerobaknya. Otaknya berpikir keras memilih calon partner kerjanya itu.
“Bagaimana, Mas?” tanya bapaknya sambil menyandarkan tangan kanannya pada gerobak yang masih proses pembuatan.
“Ini saja, Pak,” kata Kumaidi menunjuk gerobak yang paling kecil ukurannya.
Kumaidi pulang ke pondok dengan menggandeng gerobaknya yang diikat di belakang motornya. Tangan Kumaidi kerepotan melepas tali pengikat yang melilit di pegangan belakang bagian jok. Terlalu kuat tadi bapaknya mengikatkan tamparnya. Ujung jari jempol dan telunjuk terasa sakit karena ikatan tampar yang kuat. Kendor saja tidak.
Kumaidi masuk ke dalam pondok untuk mengambil pisau. Dia sudah tidak sabar lagi. Sebab dia kudu menyiapkan bisnisnya secepatnya. Rencananya nanti malam dia akan beraksi menjadi direktur, manajer, dan sekaligus karyawan. Ucapan-ucapan yang dulu pernah diucapkan orang tuanya melintas di atas teritori otaknya, tidak terkecuali orang tuanya membandingkan dirinya dengan orang lain.
***
Malam hari setelah menunaikan shalat berjamaah bersama Kiai di pondok, Kumaidi langsung mengganti pakaian shalat dengan kaos lengan panjang dan celana kain yang sudah lusuh. Bahan makanan yang akan dia jual sudah dipersiapkan sebelum shalat maghrib. Sekarang dia tinggal dorong gerobaknya menuju tempat jualan. Dalam bayangan otaknya, tempat jualannya di trotoar. Karena pasti banyak mobil ataupun honda berlalu lalang. Oramg-orang pejalan kaki juga pasti bludak.
Kumaidi mendorong gerobaknya dengan penuh semangat. Di depan gerobaknya ada tulisan “Angkringan Kopi Sehat”. Dengan embel-embel sehat pasti banyak yang akan memburu kopinya, pikirnya. Tangannya yang kurus kerempeng memegangi erat-erat pegangan kayu yang dipasang herisontal di belakang badan gerobak. Matanya mengamati setiap jengkal yang dilaluinya. Siapa tahu ada posisi yang bisa dijadikan perbandingan tempat besoknya.
Dua orang parkir tengah sibuk membantu mobil keluar dari parkiran tokonya. Tangannya diacungkan ke atas dengan telapak terbuka. Tanda berhenti. Kumaidi pun ikut berhenti ketika mobil dengan pelan dan hati-hati keluar parkiran. Mobil dan sepeda motor juga berhenti di tengah jalan.
Setelah mobil pelanggan toko yang mereka tempati, pergi, salah satu tukang parkir mempersilahkan mobil dan motor yang  sempat berhenti untuk berjalan lagi. Kumaidi memperhatikan wajah tukang parkir yang sudah keriput di bagian bawah kelopak matanya. Senyuman ramah muncul dari bibir mereka di tengah kegelapan malam.
Kumaidi mendorong terus gerobaknya hingga tiba di pinggir jalan dekat kampusnya, UIN Sunan Kalijaga. Kumaidi lantas menyiapkan barang dagangannya. Menata gelas dan piring di tempatnya masing-masing. Kursi panjang mengelilingi gerobaknya.
Belum juga selesai menyiapkan ini-itu, sudah ada pembeli yang datang membeli. Dua orang bapak-bapak duduk di depannya. Salah satu bapak yang memakai jaket kulit hitam tangannya memilah-milah gorengan. Dia mencari gorengan yang paling besar. Gorengan yang masih hangat mengepulkan sedikit asap ke udara. Sementara bapak yang satunya dengan pakainan yang simpel, hanya mengenakan kaos pendek, membakar sebatang rokok yang sudah menancap di mulutnya. Keningnya mengernyit melihat api yang mendekat ke bibirnya.
“Sampean baru, Mas?” tanya bapak yang sedang menghisap rokoknya.
“Iya, Pak. Saya baru jualan. Latihan usaha sendiri pak,” Jawab Kumaidi sambil menuangkan seduhan air jahe merah ke dalam cangkir kopi.
“Bagus itu, Mas. Masih muda harus punya semangat yang tinggi untuk merintis usaha sendiri.”
“Doanya, Pak. Semoga bisnis saya ini lancar, membawa berkah dan semakin besar,” Kumaidi menyodorkan dua cangkir kopi khasnya ke depan ke dua pelanggan pertamanya.
“Amin, Mas. Apalagi kopi yang kamu tawarkan ini sangat unik. Belum pernah dengar saya kopi sehat dengan rasa yang sangat nikmat. Jahenya sangat khas dan seperti ada resep lainnya ini. Tapi apa saya nggak tahu.”
Kedua pelanggan tersebut membungkukkan kepala, menyeruput kopi yang masih panas sepanas harapan dan semangat yang jual.
Waktu semakin malam, pengunjung semakin banyak. Kebanyakan yang ngangkring di tempatnya adalah anak muda – mahasiswa. Mereka mengobrol sangat akrab dengan Kumaidi. Bercanda bareng. Tanya ini-itu terkait kampus dan isu-isu terbaru. Dalam hati Kumaidi bersyukur sekali. Baru pertama kali buka jualan tapi pelanggannya sudah sebanyak ini. Kumaidi membuka HP, melihat angka jam digital. Jam 01.54 PM. Nasi kucing, gorengan, rokok, dan kopinya juga sudah sangat tipis, mau habis.
Kumaidi memberes-bereskan tempatnya yang berantakan dan sampah yang tergeletak di bawah gerobaknya. Dia mengemasi semuanya karena dia harus pulang. Jualannya sekarang laris manis. Secepatnya dia harus balik pondok. Biasanya jam setengah tiga santri dibangunkan untuk menunaikan shalat sunah Tahajud. Dia takut terlambat. Yang dia khawatirkan sebenarnya adalah bisnisnya ini. Kalau dia terlambat, tentu Kiai akan tidak suka dan bisa jadi Kumaidi dilarang berjualan lagi.
Dengan sisa-sisa tenaga yang masih melekat di tangan dan kakinya, Kumaidi mendorong gerobaknya menuju ke pondok. Jarak satu kilometer harus dia tempuh. Sepi menyekap kebisuannya berjalan sendirian di pinggir jalan. Sepi sekali. Manusia pada tidur, mengumpulkan kembali energi dan harapannya untuk esok hari. Hanya ada satu dua motor yang sliweran. “Kalau lama begini, besok bawa motor sajalah,” gumamnya lirih menahan lelah.
***
Kumaidi menggeluti bisnis angkringannya sudah mencapai waktu dua tahun. Pahit getir sekaligus suka bahagia, semuanya pernah dia rasakan dan telan mentah-mentah. Tapi, dia harus tahan banting. Karena hanya orang yang mampu bertahan sajalah yang pantas menyandang kesuksesan.
Bahkan Kumaidi sudah memiliki cabang angkringan di empat tempat. Dia sudah memiliki karyawan. Sudah bisa membayar orang lain untuk menjalankan bisnisnya. Tahun depan dia ingin memberangkatkan kedua orang tuanya ke tanah suci.
“Bapak, Ibu, Kumaidi ingin memberangkatkan Panjenengan ke tanah suci,” katanya ketika sedang menelpon orang taunya.
“Jangan repot-repot, Nak. Kami tidak mau membebani kamu.”
“Tidak membebani kok. Ini keinginan Kumaidi sendiri. Sebenarnya sudah lama Kuamidi mengumpulkan uang hasil jualan angkringan untuk memberangkat bapak ibu pergi haji,” Kumaidi menjelaskan niat sucinya ke orang tuanya.
Terdengar samar-samar dari telepon isak tangis orang tuanya. Kumaidi pun tidak sanggup menahan air matanya mengucur dari ke dua matanya. “Ya Allah, Nak. Kenapa kamu tidak bilang dari dulu. Sehingga kamu yang harus menanggung susahnya kehidupan ini,” kata Fauzi, bapaknya Kumaidi, dengan menahan cegukan karena tangis.
“Beban ini tidak ada apa-apanya dari pada beban yang Bapak Ibu tanggung selama ini untuk memenuhi kebutuhanku, untuk menyekolahkan aku. Sekarang saatnya, Allah memberikan kesempatan kepada Kumaidi untuk membalas ketulusan Bapak Ibu. Meskipun masih sangat-sangat kurang.”
Orang tuanya tidak bisa berkata-kata lagi. Hanya ada isakan tangis yang menderu. Fauzi dan Siti tidak menyangka anaknya memiliki niatan yang begitu mulia. Dia harus menahan sakit dan susah selama dua tahun, setiap malam dia kedinginan dan lelah yang menggerogoti tubuhnya yang kurus. “Iya, Nak. Bapak Ibu sangat berterima kasih kepadamu, Nak,” kata Siti.
“Sama-sama, Pak, Buk.... ya sudah. Kumaidi istirahat dulu. Besok lagi Kumaidi telpon,” katanya sebelum menutup telpon.
Kumaidi menatap ke atas dengan sisa air mata yang masih mengalir pelan di pipinya. Hatinya memanggil Allah dengan kuat dan berulang kali. Untuk saat ini dia ingin dekat dengan-Nya, menyebut nama-nama-Nya yang agung. Karena dia sadar bahwa hanya karena Allah-lah dia bisa membuktikan bahwa dirinya bisa sukses, membahagiakan orang tuanya sampai bisa memberangkatkan haji ke dua orang tuanya tahun depan.
“Allah....”


TAMAT

0 komentar:

Posting Komentar