About


Get this widget:

Kamis, 22 Maret 2018

PADA LEMBARAN-LEMBARAN YANG MEMBAWAMU PERGI


Oleh : Muhamad Nur Hamid Hidayatullah


Bangku kecil ini menopang tubuhku dengan kokoh, membiarkan aku semakin larut tenggelam pada satu hal yang paling mengerikan. Satu hal yang dulu sangat aku perjuangkan namun harus berhenti di tengah karena malas yang menyandra segala kemampuanku. Ya, tahu lah, apa yang paling mengerikan dan sekaligus bikin malas mahasiswa akhir kalau bukan skripsi. Apalagi dosennya susah ditemui dan mempersulit mahasiswanya. Udara segar pagi ini semakin membawaku kabur dengan embun yang tersisa. Aku menghela nafas. Ah, segar sekali, batinku.
Emak-emak berjalan di depan kosku. Di antara mereka kebanyakan membawa tas besar. Aku sudah bisa menebak kemana mereka hendak pergi. Ada satu hal aneh bagiku hidup di Yogyakarta. Toko-toko di sini bukannya lumayan siang, sekitar jam 9-an. Sangat jauh jika dibandingkan dengan di desaku, pagi-pagi buta semua toko sudah buka dan siap menerima calon pelanggannya. Entah, ada masalah apa disini. Sehingga kadang aku merasa jengkel sendiri ketika kebutuhan mendesak saat pagi, dan ternyata toko masih tutup.
Tiba-tiba kursi yang aku duduki terasa sedikit bergetar. Tanganku sangat merasakan getaranku. Aku menoleh ke bawah. HP-ku menyala. Ada satu pesan WA masuk di Smartphone-ku. Setelah kubuka, ternyata dari Nurul, kekasihku. Dia ingin mengajakku berkeliling mencari buku untuk bahan tambahan referensi skripsinya. Entah dia sudah sampai bab berapa, aku belum menanyakannya dan aku malas menanyakan hal itu.
Andrian, kamu sibuk tidak?
Aku minta tolong kamu temenin aku ya, buat nyari buku tambahan skripsiku.
Pesan yang ditulis Nurul.
Jari-jariku dengan cepat memencet tombol layar sentuh, mengetik jawaban singkat untuk Nurul.
Kapan, Rul?
Tidak perlu menunggu lama, pesan Nurul masuk. Jam 11.00 AM aku harus menjemputnya di kontrakannya. Sebenarnya dia punya motor. Cuma kalau mau jalan berdua pasti cowok yang harus modal. Bensin, uang, tenaga, waktu adalah hal yang sering melayang ketika sedang jalan-jalan sama pacar.
Kemudian aku bergegas menuju kamar mandi, membersihkan tubuhku sebersih mungkin dan sewangi mungkin. Ada satu hal keburukan yang harus aku utarakan di sini. Semoga tidak ada orang yang mengikuti jejakku. Aku mandi kalau mau jalan sama Nurul saja. Selain itu aku paling males yang namanya pergi ke kamar mandi bawa handuk. Biasanya mandi sekali hari. Bahkan pernah satu hari tidak mandi sama sekali. Ingat, ya. Jangan ditiru! Biar aku saja yang busuk. Kalian tidak perlu merepotkan diri membusuk.
***
Aku duduk di atas motor Super Cup-ku, menunggu Nurul. Aku sudah memberitahunya kalau aku sudah sampai di depan kontrakannya. Memang lama menunggu cewek. Mereka harus dandan sampai satu jaman. Aku menoleh ke belakang lalu ke depan mengikuti mobil yang sliweran di jalan. Aku merasa seperti orang hilang lama-lama. Tanganku berulang kali memegang setang motor lalu melepaskannya. Kakiku juga aku getarkan. Tanda aku cemas. Aku paling tidak suka dengan yang namanya menunggu seperti ini. Hanya bikin was-was hati dan bikin orang seperti tidak punya arah tujuan.
Aku menoleh ke kotrakan bercatkan cream dengan pintu dan jendela yang laburi warna coklat. Di depan gerbang berjejer pot-pot bungan warna-warni membuat aura kontrakan itu terlihat mahal. Dari kejauhan mataku terpaku pada seorang gadis mengenakan kerudung orange dan baju putih. Terlihat sumringah. Ditambah lagi senyumnya yang diapit lesung pipinya membuatku makin gila.
“Maaf, ya, membuatmu menunggu lama,” ucapnya mengambil helm dari tanganku.
Aku memamerkan senyum paling indah yang aku punya. “Tidak apa-apa, Nurul,” kataku.
Dia melangkah ke dan duduk di belakangku. Aku menarik gas motorku melaju menuju toko buku yang biasanya Nurul singgahi. Sekitar 10 menit kita sampai di tempat tujuan. Aku memparkirkan sepeda motorku di halaman depan toko. Seorang tukang parkir lengkap dengan baju seragam kebanggaan dengan ramah menungguiku sampai aku selesai memarkirkan motor. Aku menyunggingkan senyuman ke arahnya sebelum masuk ke dalam. Dia pun membalas senyumanku.
Buku bertumpukan rapi di rak-rak dan meja. Dari yang tipis hingga yang berhalaman tebal berjilid. Banyak orang yang sibuk memilih buku mereka. Banyak dari mereka yang membaca sekilas buku yang hendak mereka beli. Mataku tertuju seorang bapak-bapak yang sedang menikmati bukunya sambil berdiri di pojok. Seorang pemuda juga sedang duduk di depan tumpukan buku tebal sedangkan di tangannya ada satu buku. Matanya dengan tajam bergerak dari kanan ke kiri mengikuti arah tulisan. Sungguh pemandangan yang paling aku sukai ketika semua orang sibuk dengan ilmu.
Aku mengekor di belakang Nurul. Aku lihat dia juga tidak kalah asik membaca buku-bukunya. Tangannya dengan cepat membolak balik halaman per halaman. Cahaya lampu yang terang membantu mataku mengeja tulisan yang sedang Nurul baca. Ternyata dia sedang membaca tentang teori Kimia. Entahlah. Mendengar nama itu saja aku sudah merasa mual, apalagi membaca beribu-ribu teorinya. Aku Cuma ingat dulu aku disuruh berdiri di depan kelas karena tidak hafal masalah perkembangan sistem periodik unsur. Pengalaman itu tidak bisa aku lepaskan dari ingatanku. Karena itu adalah jalanku mencari alasan untuk membenarkan bahwa aku bukan orang yang menggunakan otak kiri.
***
Setelah bermenit-menit berkeliling kesana kemari, Nurul akhirnya mendapatkan buku yang pas untuk menambal kelemahan teori skripsinya. Aku merasa lega. Karena aku bisa istirahat duduk di kafe kecil samping toko buku. Aku memutar kepalaku, mengamati sekeliling. Banyak muda-mudi sedang duduk dan mengobrol bersama. Tertawa mereka juga silih berganti memekak ruangan yang didesain se-muda mungkin. Ada coretan-coretan warna warni di dinding. Coretan-coretan itu menurutku sih biasa saja. Bahkan anak kecil pun bisa membuatnya. Bukan sombong. Tapi memang seperti itu kenyataannya.
Aku memesan dua kopi hitam. Satu untukku dan satu untuk Nurul. Kopiku lebih pahit dari pada punya Nurul. Aku sangat suka kopi yang pahit. Tidak pahit-pahit amat sih. Kopi yang pahit lebih cocok untuk otakku yang sering seret. Butuh pelumas untuk melancarkan ide-ide yang tersembunyi. Terutama ketika sedang menulis, harus ada secangkir kopi hitam yang menemaniku. Kalau tidak, maka tamatlah riwayatku, tidak dapat honor dari koran. Sumber penghidupanku di Jogja ya dari tulis menulis.
“Kamu kapan selesai?” tanya Nurul membuka pembicaraan.
Aku menelan kopiku. “Selesai apa?” tanyaku bingung.
“Skripsimu. Sudah sampai bab berapa?”
Aduh. Lagi-lagi skripsi. Jujur, aku paling malas ditanya soal skripsi. Okey, aku memang suka menulis. Tapi aku tidak suka menulis skripsi. Kalau kamu tanya kenapa, aku juga tidak tahu kenapa. Mungkin karena dosennya yang susah ditemui bahkan seringkali memperlambat penyelesaian skripsi mahasiswanya. Aku pikir hal itu sudah jadi rahasia umum.
“Kapan selesai?” Nurul mengulangi pertanyaannya.
“Aku mau bab dua. Hehe,” jawabku sambil cengengesan.
“Dari dulu?!” dia kaget.
Siap-siap diomeli nih, batinku. Aku tidak memberikan jawaban kecuali hanya senyuman. Aku menatap matanya. Ada semacam perasaan marah dan kecewa disana. Nurul menghela nafas sambil menurunkan kedua ujung bibirnya. Menyadari hal itu, aku buru-buru minta maaf dan meyakinkan dirinya kalau aku akan segera menyelesaikannya. Tapi, yang aku dengar bukan ucapan semangat. Aku menundukkan pandanganku. Menghela nafas sedalam mungkin. Aku tidak percaya dengan apa yang dia utarakan. Dia memperingatkan aku, lebih tepatnya mengancamku.
“Aku sudah mengingatkan kamu dari dulu. Kalau kamu memang cinta sama aku, kamu harus menyelesaikan skripsimu secepatnya. Kita tidak mungkin bersama kalau salah satu di antara kita masih ada yang kuliah. Orang tuaku tidak akan setuju, Ndri,” ucapnya.
“Kamu harus sukses dulu, Ndri. Buktikan ke orang tuaku kalau kamu bisa sukses,” ucapnya lagi.
Sementara aku masih terdiam. banyak pertanyaan secara tiba-tiba sesak memenuhi otakku. Kita tidak akan bersama kalau salah satu dari kita masih kuliah. Artinya aku tidak direstui bersama Nurul kalau aku belum lulus kuliah. Aku harus sukses dulu. Dengan kata lain, aku harus kerja dan kaya untuk menjalin hubungan dengannya.
Aku memandangi wajahnya. Senyumnya terukir lengkap dengan lesung pipinya. Aku juga tersenyum kepadanya. Aku mengangguk kepadanya, mengiyakan persyaratannya itu. Entah apa aku bisa atau tidak mengejar wisudanya yang bulan depan, Maret. Setidaknya mengiyakannya bisa meyakinkan dirinya kalau aku sungguh-sungguh mencintainya.
“Balik, yuk,” ajaknya setelah minuman yang ada di tangannya habis tinggal potongan es batu bening nan dingin.
“Ayuk,” kataku sedikit lemas gara-gara tadi.
Kami bangkit dari kursi. Kami sudah membayar minuman kami saat memesannya. Suasanya masih ramai seperti saat pertama kali kami masuk. Aku mengamati ada yang bergerombol, tertawa bareng. Dan ada juga yang duduk sendirian mengetik atau memandangi laptopnya.
Aku mengangkat tangan kananku. Menoleh ke jam yang melingkar di pergelangan tangan. Pukul menujukkan 2.15 PM. Berarti sekitar tiga jam lebih aku menemaninya jalan. Aku pikir kali ini lebih cepat dari biasanya. Dulu aku sering menemaninya jalan ke toko buku, toko baju, toko make-up sampai seharian. Mulai dari satu toko ke toko yang lain. Di situlah gunanya cowok, menjadi tempat bagi si cewek. Tapi banyak juga perjuangan cowok yang menghabiskan waktunya, tenaganya bahkan uang menjadi sia-sia. Awalnya begitu mesrah, setiap waktu ingin selalu dihabiskan bersama. Segalanya akan diberikan. Namun, di akhirnya malah berpisah. Padahal karena masalah sepele.
Untuk saat ini pertanyaanku adalah Apa aku akan seperti itu?
Nurul melambaikan tangan kepadaku sebeleum masuk ke dalam kontrakan. Aku kembali ke kosku. Aku masih teringat dengan ucapannya tadi. Apa aku bisa mengejar dirinya? Sedangkan jarak skripsi terpaut jauh darinya. Aku berusaha meyakinkan diriku bahwa aku bisa. Apa sih yang tidak bisa di dunia ini. Satu hal yang mustahil di dunia ini, yaitu makan kepala sendiri, batinku.
Dan hal mengerikan yang pernah aku bayangkan, kali ini benar-benar terjadi. Sampai detik ini aku belum menulis apa-apa. Tetap mandek di bab dua. Perasaan malas masih menjalari tubuhku. Sebenarnya keingin untuk selesai itu ada, tapi raga ini rasanya susah dan berat diajak berangkat ke perpustakaan kampus. Padahal jaraknya dekat, hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai di kampus. Sampai suatu ketika aku benar-benar harus memaksa jasadku beranjak ke perpustakaan. Mencari buku yang diperlukan untuk memperkuat argumentasi skripsiku.
Sejak pertama kali menginjakkan kaki di lantai perpustakaan, aku menjadi ketagihan ke sana. Ternyata tidak seangker dan sesulit yang kubayangkan. Menulis skripsi sama asiknya dengan menulis sebuah cerita. Dalam satu minggu aku bisa pergi ke perpustakaan sampai empat kali. Sehingga satu minggu sebelum acara wisuda Nurul, aku bisa menyelesaikan bab dua dan separuh bab tiga.
Akhir-akhir ini aku jarang sekali mengirim pesan dengan Nurul. Sejujurnya aku kangen. Tapi dia tidak mau menemuiku kalau belum menyelesaikan skripsiku. Kadang aku mikir setega itu dia mendorongku agar aku sukses? Aku juga butuh kasih sayang supaya terus melangkah jauh. Kalau seperti ini terus lama-lama aku juga bete. Aku ingin dia ada selama aku berjuang mengetik berhalaman-halaman. Aku ingin dia menatapku ketika aku sedang pusing-pusingnya membaca buku. Bahkan aku ingin dia ada di sampingku meski sekedar bertanya “istirahat sebentar saja. Nanti lanjut lagi”. Namun kenyataan berkata lain, dia tidak ada.
Aku mencoba menelponnya. Aku tempelkan HP-ku ke telinga. Suara dering terdengar lirih. Panggilanku sudah masuk. Tapi belum, mungkin tidak, dia angkat. Aku bersabar menunggu sampai nada dering kehabisan suaranya. Tetap tidak diangkat. Aku mencoba menelponnya sekali lagi. Hasilnya tetap saja tidak diangkat. Mungkin sibuk, batinku.
Aku duduk di depan teras kos. Biasa, menikmati pemandangan orang jalan lalu lalang di depanku. Aku menoleh ke tetangga sebelah. Pintu kamarnya tertutup. Siang tadi aku dengar dari dalam kamar mereka akan pergi bersama ke gunung Bromo. Salah satu cewek, yang paling cerewer mengingatkan teman-temannya untuk bersiap-siap.
“Ayu, kita siap-siap berangkat. Awas barang bawaan jangan sampai ada yang lupa,” ucap cewek cerewet tadi.
Gerombolan anak kecil berkumpul di tanah lapang depan kos. Melihat mereka bercanda ria, berlarian memungut kelereng yang disentul, menghipnotisku untuk menghampirinya. Aku melihat ada gambar segita tidak beraturan di atas tanah. Di dalam garisnya ada beberapa kelereng warna warni tersusun zigzag. Aku tahu betul cara mainnya bagaimana. Sebab dulu waktu kecil aku sering sekali memainkannya. Tak jarang taruahan, yang menang berhak memiliki kelereng lawan. Aku tersenyum melihat tingkah mereka. Teriak-teriak tidak terima dirinya dicurangi temannya sendiri.
Memang indah masa kecil ini...
***
Aku membuka dompetku. Melihat isinya bikin hati ngenes. Mau beliin kado apa buat Nurul besok kalau uangnya tinggal tiga lembar coklat, alias limabelas ribu. Emang ada kado bagus yang harganya segitu? Kado permen paling. Aku menghempaskan dompetku beserta tubuhku ke kasur. Mataku menatap langit, siapa tahu aku menemukan ide perihal kado. Apa aku harus tanya Nurul mau kado apa? Tapi kalau tanya itu bukan kado namanya. Atau aku jujur sama dia kalau aku lagi melarat? Nanti dikira tidak niat membelikan hadiah untuk pacarnya.
Ah. Bingung.
Kebingunganku makin akut karena sampai larut malam begini Nurul belum ngasih kabar apapun. Seharian tidak ada satupun pesan darinya masuk ke HP-Ku. Sesibuk itukah dirinya sampai satu detik untuk nulis tanda titik untukku saja tidak bisa? Lagi-lagi aku hanya bisa menghela nafas. Karena aku sadar, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku selalu memandangi layar HP. Siapa tahu tiba-tiba nanti berdering menyambung pesanmu. Satu menit, dua menit, duapuluh menit sampai aku tidak sadarkan diri, pesanmu tak kunjung datang mengobati rasa sakit di dalam hatiku.
***
Mataku lekat menatap layar lebar di samping gedung acara wisuda. Aku sampai tidak memperdulikan sekelilingku. Suara berisik berjubel jadi satu di sini tidak mempan merubuhkan ketulianku. Ya, saking bahagianya aku melihat dirimu duduk di dalam sana, Rul. Seragammu sungguh cantik. Yang kamu pakai itu sesuai banget dengan warna favoritmu, orange.
Aku melihat senyum-senyum yang terukir di wajah mereka. Tentu makna senyuman itu tergantung siapa yang menafsiri. Jika yang menafsiri seperti aku, mahasiswa lama, senyuman itu adalah penghinaan. Haha. Tapi, maaf, aku tidak akan terpengaruh dengan ejekanmu. Sebab sekarang aku punya satu senyuman yang menyimpan seribu motivasi untukku terus melangkah. Tidak ketinggalan lesung pipinya semakin menenggelamkan aku ke dalam imajinasi paling tinggi. Lesung itu adalah perwakilan gambaran betapa dalamnya cintaku padanya.
Video rekaman di layar lebar itu kemudian pindah ke arah para orang tua wisudawan. Mereka juga tidak kalah bahagia dengan anak-anaknya. Pasti mereka bangga sekali. Mungkin itu yang akan dirasakan orang tuaku saat aku diwisuda kelak. Kelak? Kapan itu? Aku belum tahu. Aku masih berjuang menyelesaikannya.
“Oh, iya, dari tadi aku belum melihat orang tua Nurul,” ucapku lirih.
Mataku mulai sibuk mencari-cari dimana kedua orang tua Nurul duduk. Setiap kali kamera diarahkan ke tempat orang tua, mataku langsung dengan cepat memandangi wajah para orang tua. Itu aku lakukan cukup lama sampai aku lupa untuk memperhatikan Nurul. Dan bodohnya aku, ternyata aku barru ingat kalau selama ini, aku belum dipertemukan kepada orang tuanya. Boro-boro bertemu, lihat dari jauh saja tidak pernah. Bahkan kenal namanya saja tidak. Nurul tidak mau cerita soal ini. Tebakanku sih, mungkin dia takut aku guna-guna.
Satu jam lebih sudah berlalu. Akhirnya acaranya kelar. Wisudawan wisudawati berdiri dan berhamburan. Saling mengobrol, tersenyum, tertawa. Aku tahu apa yang mereka katakan. “Wah selamat ya”, “habis ini mau lanjut kemana?”. Ya, seperti itu kiranya pertanyaannya. Kemudian terdengar suara dari belakang bertanya kepadaku. Tapi pertanyaan ini lain. Pertanyaan yang membuatku mual.
“Kapan wisuda, Ndri?”
Aku menoleh ke belakang. Seorang cewek tinggi kurus berdiri di belakangku sambil tersenyum. Cewek yang kuliahnya lebih parah dari aku. Dia masih banyak mata kuliah yang mengulang. Padahal dia satu tingkat di atasku. Dulu, ketika kita satu kelas mata kuliah Sejarah Pendidikan, dia sempat bilang kepadaku, “untuk apa kuliah cepat-cepat? Apa keilmuan kita bisa dipertanggungjawabkan hanya dalam waktu sesingkat itu? Kalau misal lulus tercepat mau ngapain? Mau nganggur? Dan banyak mahasiswa lulus tercepat yang nganggur kan?”, katanya. Aku mengiyakan saja. Aku tidak bisa menyalahkan pemikiran dia. Sebab kasus yang dihadapi setiap orang berbeda. Yang penting dia bertanggung jawab dengan pilihannya itu.
Tapi ada satu ucapannya yang menyentak sisi lain dari diriku. Dia bilang “kami anak organisasi kenapa lulusnya lama bukan karena malas. Tapi karena kami merasa bahwa keilmuan yang kami miliki belum cukup untuk diluluskan. Kami harus terus menggali pengetahuan. Dan itu tidak bisa hanya di kampus. Kita harus keluar dari dinding ini, mencari yang kurang dari sini”.
Benar juga kupikir. Selama kuliah kegiatan dalam kelas Cuma itu-itu saja; diskusi, presentasi, diterangkan. Dan ironisnya, mahasiswa sebelum masuk kelas, dia belum siap dengan bahan-bahan yang akan didiskusikan. Mau diakui atau tidak, itu kenyataannya. Sehingga forum diskusi itu mati. Makanya, mereka yang memiliki jiwa “bebas” beranggapan harus berkelana keluar. Okey, pada titik ini aku setuju. Tapi kalau masalah lulus lama aku kurang setuju. Karena ketentuan kuliah itu harus lulus tepat waktu atau lebih cepat. Dengan lulus tercepat itu dapat membuktikan bahwa dirinya disiplin, cepat tanggap dan mampu bersaing. Untuk masalah kualitas keilmuan itu tanggungjawab pribadinya. Apa dia mau terus belajar apa tidak.
Aku tertawa saja mendengar pertanyaan yang dia lontarkan. “terus kamu kapan wisuda, Put?” aku bertanya kembali.
Putri, mahasiswi tua – mungkin umurnya sudah ribuan tahun. LOL! – tertawa terbahak-bahak dan menabok pundakku. Aku meringis merasakan panas menjalar dari pundak menuju otakku. Kemudian kami mengobrol bareng sambil aku menunggu Nurul keluar dari gedung. Putri juga sedang menunggu pacarnya yang wisuda duluan. Jalanan penuh sesak oleh manusia. Mereka sibuk mencari seseorang yang akan diberi ucapan selamat. Ada yang sampai diangkat dan dilempar-lempar ke atas. Senyum bahagia mereka terlihat jelas sekali. Kecuali diriku.
Aku masih mencari Nurul. Aku juga ingin mengucapkan selamat secara langsung. Kotak kado yang ada ditanganku juga sudah tidak sabar dibuka oleh tangannya yang putih mungil. Aku sudah nge-chat dirinya. Tapi tidak dibalas. Cuma dibaca saja. Mungkin dia masih kecewa sama aku. Aku menoleh ke kana dan ke kiri. Berjalan di antara ratusan tubuh yang berlalu lalang, meneriakkan nama kebanggan masing-masing.
Sampai pada akhirnya aku melihat Nurul. Dia sedang berdiri mengobrol dengan teman-temannya. Aku melangkah menghampirinya. Dia menoleh ke arahku. Senyum bahagia yang tadinya mengembang di bibirnya, kini menguncup setelah melihatku. Omongannya pun tidak sedekat kemarin-kemarin. Sekarang dia cuek, agak menutup diri dariku.
Aku tidak akan mempermasalahkan digitukan dia. Meskipun aku juga merasa sakit. Aku akan menahan rasa sakit ini. Aku kesini Cuma untuk memberi ucapan selamat dan kado ini untuk dia. Mau dianggap atau tidak aku tidak terlalu memikirkan itu. Aku Cuma ingin menunjukkan ke dia kalau aku tulus mencintai dia. Sebokek apapun aku usahan bisa membeli kado yang pantas untuk dia. Bahkan jika posisi dia di aku, aku akan tetap mencintai dirinya tanpa menuntut apapun.
Setelah memberi ucapan salam dan kado, aku langsung pamit pulang. Aku tidak mau merusak momen bahagianya. Aku juga mau langsung tidur. Aku tidak mau kepikiran dan merasakan sakit di hatiku. Sesampainya di kos aku langsung tidur. Sebelum tidur aku sempat menulis pesan untuk Nurul. Mungkin dengan satu kata itu, Nurul akan kembali seperti dulu, mencintaiku, menyayangiku dan perhatian kepadaku.
Maaf...
***
Pagi ini rasanya sangat berbeda dengan pagi sebelum-sebelumnya. Langit sangat cerah dengan kombinasi warna biru dan putih. Angin pagi membelai pistilum yang baru saja terlahir dari kegelapan malam. Sejuk. Suara-suara tetangga terdengar sayup namun merdu tidak kalah merdu dengan kicauan burung-burung kecil menari di atas kabel listrik.
Ya, kali ini berbeda dengan pagi yang sudah-sudah. karena pagi yang ada dalam hatiku masih terselubung kabut hitam. Gelap. Hingga aku tidak bisa merasakan kehadiranku. Mendengar hembusan nafasku masih begitu berat. Aku kacau. Semua kacau. Dua minggu pasca diwisudanya Nurul, dia tidak lagi menghubungiku. Aku sebenarnya sudah tidak kuat dicampakkan seperti ini. Aku hanya butuh dia meluangkan beberapa menitnya untuk menanyakan kabarku. Itu saja. Tidak perlu ketemu juga tidak apa-apa.
Aku seperti orang gila memikirkan ini semua. Otakku rasanya mau meletus memuntahkan lahar amarah yang panas merjang jarak yang memisahkan aku dan dia dan menghanguskan pertanyaan kenapa aku harus kamu buat begini? Aku juga sudah melaksanakan amanahmu untuk menyelesaikan skripsiku. Meski belum selesai tapi kurang sedikit lagi aku akan menuntaskannya. Hanya karena kamu ragu aku tidak bisa menyelesaikan ini, kamu buat aku semenderita ini? Apa kamu tahu aku makan berapa kali sehari? Aku sudah bisa menebak jawabanmu. Kamu akan menjawab tidak tahu. Ya, aku tahu itu, karena kamu tidak pernah menanyakan kabarku. Atau soal berapa jam bahkan menit aku bisa tertidur? Tepat waktukah aku shalat? Sudahkah aku olahraga? Kamu tidak akan tahu itu semua. Yang jelas, hidupku sekarang berantakan tanpa kamu.
Aku membaringkan tubuhku di atas kasurku yang berantakan. Aku malas bangun. Mataku menerawang ke langit-langit kamar. Entah, nanti aku mau ngapain saja seharian, aku tidak tahu. Aku akan tiduran sepanjang hari, mungkin. Aku miringkan tubuhku ke kanan. Nafasku mulai bisa aku dengar. Aku akan merelakan nasibku. Aku harus menerimanya. Kamar kos yang aku tempati terasa sunyi. Suara-suara sayup yang aku dengarkan tadi juga sudah membisu.
Kemudian HP yang aku genggam dari tadi bergetar sebentar. Aku mengangkat HP-ku ke depan muka. Ada satu panggilan masuk dari Nurul. Ah, rasanya seperti ada angin Topan menghantam pikiranku. Tidak sakit tapi menyejukkan. Seluruh kekuatanku kembali bahkan lebih meningkat. Kemudian pesan darinya masuk. dia mengajak aku bertemu di taman fakultas Saintek. Aku tidak sabar ingin bertemu dengan dia. Aku ingin melepaskan ketidakjelasan hidupku dengan meligat lesung pipinya yang tergarit abadi di wajahnya.

Tanpa ba-bi-bu, aku langsung bangkit menuju kamar mandi. Busa sabun mandi mengembang di sekujur tubuhku. Aku harus terlihat ganteng nanti, gumamku di tengah guyuran air. Aku melepeh air yang masuk ke dalam mulutku. Tanganku bergerak maju mundur memegangi sikat gigi di mulutku. Aku sikat seluruh bagian gigiku. Tidak ada bagian terkecil yang terlewatkan. Kugerakkan sikatnya ke kana dan ke kiri, masuk ke sela-sela rahangku. Pasta giginya tanpa sengaja tertelan sedikit. Rasanya enak dan segar. Haha. Gak percaya? Silahkan coba sendiri. Tapi jangan satu botol pasta gigi kamu habisin. Bisa dituntut nanti aku.
Setelah hampir satu jam aku mengahabiskan waktu di kamar mandi, aku langsung memakai baju terbaikku; baju kemejan biru. Kemudian memakai celana Pensil hitam. Tidak lupa sepatu warna putih – karena aku hanya punya satu sepatu ini. Aku memandangi diriku sendiri yang ada di dalam cermin. Mulai dari rambutnya, mata, bibir sampai ke bagian perut dan aku katakan kepadanya “kamu memang ganteng, Ndri” sambil membenarkan kancing bagian atas.
Hawa di luar lumayan adem, meski matahari semakin naik dan menyengat. Aku menoleh ke kamar sebelah kananku, kamarnya Yanto, mahasiswa S2 Psikologi UGM. Pintu kamarnya terkunci tapi dua jendelanya terbuka. Sandalnya juga ada di depan pintu. Jalanan terlihat sepi. Pepohonan di tanah lapang depan kosku bergoyang seolah melambai kepadaku. Aku melangkah menuju pohon itu, karena aku memarkirkan motorku di sana.
Aku pergi dengan motor kebanggaanku, motor yang aku beli dari jerih payahku menulis di koran-koran. Aku tancap gasku lebih dalam supaya motorku yang jalannya kaya bekecot, menjadi lebih cepat seperti Burok. Aku tidak sabar lagi bertemu dengan Nurul. Sepanjang perjalanan aku selalu membayangkan dirinya tersenyum dengan lesung pipinya yang indah menyambut kedatanganku. Becak-becak, sepeda Unta dan pejalan kaki kusalip semua dengan motoku. Kecuali mobil dan motor-motor keluaran era modern, aku tidak kuat menyalip mereka. Sampai ngeden juga gak akan bisa. Kalau aku paksakan, aku takut baut motorku akan lepas semua. LOL!
“Assalamu’alaikum, Rul,” salamku ketika sampai di taman fakultas Saintek.
“Waalaikum salam,” jawabnya sambil mempersilahkan aku duduk.
Aku duduk di depannya. Aku memandangi wajahnya. Tapi yang kuharapkan selama perjalanan tadi salah. Tidak ada senyum apa lagi lesung pipi di wajahnya. Aku mulai khawatir lagi. Aku memandangi lingkungan sekitar. Ada beberapa mahasiswa dan mahasiswi sedang di kursi taman ditemani laptop masing-masing.
“Aku belikan air minum, ya,” kataku memecahkan kecanggungan kami berdua. Bokongku sudah terangkat. Aku berdiri.
Tapi dia menolak. Dia menggelengkan kepalanya.
Aku kembali duduk lagi dan menyunggingkan senyum.
“Andrian,” ucapnya memanggilku.
“Iya, Rul.”
“Aku mau ngomong serius sama kamu.”
Aku menyondongkan kepalaku sedikit ke depan, siap-siap mendengarkan omongannya. “Silahkan, Rul,” kataku.
“Aku rasa kita tidak usah lagi melanjutkan hubungan ini,” ucapnya membuatku tersentak.
“Kenapa?”
Hanya satu kata itu yang keluar dari mulutku. Bibirku terasa kelu. Aku tidak habis pikir kalau semuanya akan jadi seperti ini. Hubungan yang aku bina selama tiga tahun akan kandas. Dunia seperti menjauh. Jarak kami pun mulai merenggang dalam pandangan mataku. Waktu seolah keluar dari jalurnya lalu menabrak diriku hingga terpental. Aku mengernyitkan keningku. Kepalaku mulai berat.
“Kenapa?” tanyaku lagi.
“Kita sudah tidak cocok, Ndri,” katanya membuang muka.
“Apanya yang tidak cocok, Rul? Ceritakan sama aku!” aku memelas.
“Kamu tidak bisa melaksanakan apa yang aku katakan.”
“Soal skripsi itu?”
“Iya,” jawabnya singkat.
“Aku sudah melaksanakannya, Rul. Bab tiga kurang sedikit lagi bab empat!”
“Tidak segampang itu kamu menyelesaikan satu bab, Ndri,” matanya menatapku tajam. “Lagian orang tuaku tidak setuju sama hubungan ini,” lanjutnya.
Aku sudah menduga dari awal. Alasannya pasti karena orang tuanya. Memang perbedaan keluarga kami seperti sumur dan langit. Dia terlahir dari keluarga kaya. Bapaknya adalah direktur utama perusahaan mutiara. Sedangkan ibuku hanya seorang penjual sayuran di pasar. Bapakku sudah meninggal ketika aku masih duduk di bangku MTs kelas dua.
“Kalau orang tuamu yang bilang, maka aku tidak bisa apa-apa kecuali merelakanmu,” ucapku menahan air mata yang ingin tumpah. Aku berusaha terlihat tegar. Aku menyunggingkan sisa senyuman termanis yang aku punya.
Dia hanya diam memandangku.
“Aku hanya bisa berdoa semoga engkau mendapatkan yang terbaik, masa depanmu terbaik, pendidikanmu terbaik,” aku menundukkan pandanganku. “Dan jangan lupa mendoakan aku juga,” lanjutku menatap wajahnya dengan air mata yang sudah menetes di pipiku. Aku sudah tidak bisa membendungnya. Aku tidak perduli akan dianggap laki-laki cengeng. Aku tidak peduli. Karena air mata adalah bukti bahwa kamu, Nurul, ada dalam hatiku. Tapi saat ini aku harus melepasmu demi kebahagiaanmu. Aku tidak akan menyalahkan apapun, termasuk kamu. Ini juga salahku, kenapa tidak dari dulu aku menulis skripsiku bersamamu. Kalau saja dari dulu, mungkin aku sudah wisuda bareng kamu.
Nurul bangkit dan pamit pulang. Aku mengangguk menatap wajahnya. Nurul berbalik melangkah meninggalkan aku duduk sendirian di taman ini. Taman ini akan menjadi saksi pertemuan sekaligus perpisahan kita. Aku memandangi punggung Nurul yang semakin menjauh. Aku tidak mampu mengejarnya. Semua sudah terjadi. Cinta yang masih utuh dalam jiwaku ini membuatku kuat untuk mengikhlaskanmu.
Aku pulang dari kampus. Sepanjang perjalanan air mataku tidak hentinya mengalir. Karena air mata itu, pipiku terasa dingin diterpa angin. Di jalan raya tidak terlalu banyak mobil dan motor sehingga aku lebih leluasa melampiaskan kesedihanku dengan menarik gasku sampai mentok. Ngebut. Meski tidak bisa cepat. Tapi lumayan kalau bisa menyelip sepeda motor yang jalannya pelan. Aku ingin berteriak! Aaaaaaaaaa!! Teriakku dalam hati. Aku tidak berani teriak di jalanan. Nanti semua orang menganggapku gila.. begini saja aku sudah tidak waras.
Sesampainya di kos aku langsung menjatuhkan tubuhkau di atas kasur. Aku ingin tidur. Aku tidak mau ingat-ingat masalah tadi. Aku ingin melupakannya dengan tidur. Dulu ibuku pernah bilang kalau aku sedang kena masalah tenangkan dengan tidur. Bangun tidur terus mengambil wudlu untuk melaksanakan shalat sunnah. “Mengadulah sepuasmu kepada Allah, Nang. Allah akan dengan antusias mendengar curahan hatimu,” kata ibu dulu sebelum aku berangkat ke Jogja.
Dengan sekuat tenaga aku menutup mataku, menenangkan diriku, mengkosongkan pikiranku supaya aku bisa tidur. Meski begitu, kejadian tadi masih sangat jelas tergambar di kepalaku. Aku menelusupkan wajahku menghadap ke bawah, menempel kasur. Dua jam aku membaringkan tubuhku. Memejamkan mataku. Tapi belum juga tidur. Minum obat tidur juga tidak mungkin, karena aku tidak punya obat tidur. Akhirnya aku pasrah. Aku memejamkan mataku dengan memori terpahit berkeliaran di dalam mataku yang gelap. Lama kelamaan ingatan itu menghempaskan jauh ke bawah hingga aku tidak sadar diri. Aku terlelap.
“Ya Allah, kuatkan hamba-Mu ini,” doaku lima menit sebelum aku terlena dinina-bobokan rasa sakitku sendiri.

TAMAT

1 komentar: