About


Get this widget:

Jumat, 01 Desember 2017

HARUS ADA TUMBAL UNTUK KESUKSESAN

HARUS ADA TUMBAL UNTUK KESUKSESAN
Oleh: Must Hiday
Pernah denger tidak, kalau hidup adalah pilihan. Artinya harus ada yang dikorbankan. Ungkapan itu ternyata benar. Misalkan ketika engkau sedang menginginkan pekerjaan, akan tetapi ditengah jalan kamu dihadapkan masalah ujian PPL kuliah. Lantas apa yang akan kamu lakukan? Memilih keduanya? Tentu tidak bisa. Apa mau menghindari keduanya? Silahkan kalau ingin mati konyol – itupun suatu pilihan yang mengorbankan masa depanmu. Berarti kamu harus memilih salah satunya yang menurutmu baik dan lebih penting untuk menunjang masa depanmu. Setuju kan?
Nah, tadi pagi, jam delapan, aku harus berangkat untuk interview pekerjaan. Kamu tahu kan, orang segede aku gini, udah tua, pasti membutuhkan pekerjaan untuk masa depan, untuk tabungan masa depan, dan tentu untuk modal nikah. Oleh karena itu, pekerjaan ini sangat berarti bagiku. Aku harus mendapatkan kerja. Sehingga aku bisa memiliki uang sendiri untuk mencukupi kebutuhan hidup, tidak perlu mengemis kepada orang tua lagi. Uang orang tua yang biar dinikamati orang tua. Bahkan kalau bisa kita yang harus menafkahi orang tua, sebagai balas budi kepada mereka.
Berkas sudah aku siapkan semua, mulai dari CV sampai fotokopi foto. Aku cek lagi untuk memastikan syarat interview sudah lengkap. Dirasa cukup, aku keluar pondok menuju ke motorku. Ku tenteng tasku layaknya seorang direktur perusahaan. Saya suka bergaya seperti orang sukses. Ada satu buku yang sangat menginspirasiku. Buku itu berjudul.... apa ya? Kok lupa aku. Tapi intinya buku itu menerangkan bahwa orang sukses dapat diprediksi mulai dari detik ini. Tidak usah menunggu besok. Jika sejak kecil atau muda, seseorang sudah berperilaku, berbudaya, bertindak seperti orang sukses, maka orang itu kemungkinan besar besok masa depan akan menjadi orang hebat. Itulah mengapa aku berlagak seperti orang hebat, bertindak seperti orang hebat dan berpikir seperti orang hebat. Supaya masa depanku juga secerah mereka yang menjadi manajer, direktur dan orang sukses lainnya.
Ku-“pancal” sepeda motor jadulku yang berwarna putih hitam. Suaranya sangat khas; trontong tong tong, memekak telinga orang yang mendengarkannya. Kutarik gasnya pelan-pelan. Motor SuperCub – motor Thailand – mulai maju perlahan-lahan menyusuri jalan (Sisa orang yang aku makan. Malah nyanyi).
Kulihati rumah dan toko-toko pinggir jalan. Jam segini masih banyak toko yang belum buka. Sudah menjadi adat orang sini kalau buka toko itu jam sembilanan. Kalau di daerahku – Demak sana – warung buka pada jam enam, bahkan jam lima pas. Jadi, ma cari sarapan itu enak, nggak usah nunggu sampe jam sembilan lebih. Padahal sarapan melebihi jam sembilan kan tidak baik.
Berlalu lalang motor dan mobil menyalip motorku. Ada yang boncengan ada yang tidak. Ada yang bawa keranjang besar juga dengan sayur-sayuran. Ujung sayurannya terjuntai keluar dari keranjangnnya. Melambai-lambai ke arahku. Kulihatin saja itu sayuran. Sepertinya sayuran itu minta tolong sama aku. Dia nggak mau berakhir jadi oseng-oseng atau sayur bening. Kasihhan. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. “Maafkan aku, sayur.” Aku berimajinasi seperti orang gila.
Mana ada coba sayur takut jadi oseng-oseng? Kan emang sudah takdirnya to.

Aaahhh jadi lapar kan.
Lagi bengong ngelihatin sayuran, tiba-tiba ada motor metik yang ditunggangi dua cewek, menyenggol motor sama-sama metik yang dikendarai mas-mas gendut. Kronologinya pertama kali si mbak-mbak mau menyalip karena terburu-buru, mereka takut terlambat. Sedangkan masnya mau belok kiri menuju warung makan. Sayangnya mas ini tidak menyalakan lampu Sen. Sehingga yang terjadi adalah gubrak! Glontang! Tiyarr! Pess! Preettt! Duttt! Ya kurang lebih suaranya seperti itu.
Aku melihat dengan jelas bagaimana mbak-mbaknya tersungkur. Motornya jatuh menabrak tempat duduk. Seketika aku langsung berhenti dan berlari membantu mereka. Kasihan. Baju, androk dan sepatu mereka berdua kotor terkena tanah yang bercampur air. Untung mereka tidak terluka parah, paling Cuma lecet di telapak tangan. Sementara itu, masnya baik-baik saja. Motornya tidak jatuh.
Mas gendut pakai baju biru dan katok pendek, turun dari motornya menhampiri korban yang jatuh. Sambil tersenyum ketakutan, dia meminta maaf. Akan tetapi mbaknya diam aja, kebingungan; mau dimaafkan tapi masnya kan harus tanggung jawab, mau menuntut tanggungjawab masnya juga mbak-mbaknya takut.
“Mas, sampean harus tanggungjawab. Sampean yang salah. Mau belok, lampu Sen-nya  tidak digunakan!”Ucapku dengan tegas membantu menyuarakan hak mbak-mbak tadi.
Saya tidak takut bilang seperti itu, meski aku masih muda, sedang umur masnya di atasku. Tapi karena memang dia yang salah dan harus tanggung jawab to. Masak mau lari begitu saja, sementara mbaknya dan motornya belum dipenuhi haknya.
“Nggeh mas,” jawabnya sambil sedikit membungkuk ke arahku. Dia takut. Orang yang salah pasti akan ketakutan karena dia sadar perbuatannya itu merugikan orang lain. Bagi yang sadar. Kalau yang tidak sadar atas kesalahannya, mau diomongin kayak apa juga tidak akan ngerti.
“Ya masalah kalian diselesaikan dengan baik. Jangan sampai ada yang dirugikan,” kataku kemudian aku naik motor dan melaju meninggalkan mereka. Karena aku masih ada urusan yang penting juga.
Setibanya dilokasi interview kerja, kami, para calon karyawan, memasuki sebuah ruangan seminar. Di dalam ruangan sudah berdiri beberapa panitia; cewek satu cowok empat – berdiri menyambut kami. Di depan ruang seminar sudah menyala proyektor, menyorotkan tampilan Poer Point yang tertulis “SELAMAT DATANG PARA PEMIMPIN”. Ruangannya gelap karena lampunya dimatiin.
Di situ kita disuruh duduk dengan rapi dan tenang. Karena setelah ini acara akan dimulai. Kemudian seorang cowok kurus tinggi melangkah menuju ke depan peserta. Dia terlihat sangat percaya diri. Terlihat dari cara dia berjalan dan berdiri memegang mikrofon. Dia melihat kami dari ujung kanan ke kiri. Kemudian dia mengawali pidatonya dengan ucapan salam. Dia MC to ternyata.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaaatuh!”
“Wa’alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab kami serentak dengan sangat bersemangat.
“Kita berkumpul di sini tidak lain adalah untuk melangkah menjadi pemimpin besok di masa yang akan datang. Karena kalian lah yang akan melanjutkan perjuangan kami. Kejayaan negara dan agama kelak berada di tangan kalian. Jika yang kalian tanamkan dalam diri kalian sejak dini adalah budaya malas, tidak memiliki etos kerja tinggi, dan tidak mempunyai mimpi yang tinggi, maka tinggal menunggu waktu Indonesia dan Islam menjadi sesuatu yang tinggal nama. Akan tetapi, jika sebaliknya, yang kalian kerjakan saat ini adalah hal positif untuk membangun masa depan, untuk mengembangkan potensi kalian, maka, saya yakin bahwa Islam dan Indonesia akan jaya di tengah dunia yang semakin gila ini.” Orasi awal yang cukup menggugah mataku.
Di tengah-tengah aku sedang fokus mendengarkan motivasi dari mas panitia, aku teringat kalau hari ini adalah hari Jumat. Yang artinya hari ini aku ada ujian PPL! Buset gimana ini?? Mana yang harus aku pilih antara kerja dan kuliah? Kalau aku pilih kuliah berarti aku harus siap-siap gak kerja dan otomatis aku tidak akan punya uang. Sedangkan kalau aku pilih kerja, hla nanti kuliahku bagaimana? Ujian PPL-ku? Skripsi-ku?
Memang kerja disini memakai sistem pembagian jam atau shift. Tetapi, kalau dipikir-pikir, itu tetap akan mengganggu kuliahku. Okey, katakan aku bisa mencicil skripsiku pada malam hari, tetapi siang hari aku tidak bisa bimbingan karena aku harus kerja. Terus kalau aku dapet kerja malam, tentu aku tidak bisa menulis skripsiku dan siangnya aku tidak bisa bimbingan. Hla bimbingan apa, wong tidak ada yang ditulis? Tidak mungkin kan aku ngajak pembimbingku untuk bimbingan haji, bisa dicorat-coret nanti mukaku.
Aku bingung. Mana yang harus aku menangkan dan aku jadikan tumbal. Aku harus menumbalkan salah satunya. Memilih kerja tentu tidak mungkin. Memilih kuliah, aku juga kurang puas karena tidak akan bekerja.
Aku terdiam. Aku sudah tidak bisa fokus mendengarkan kata-kata panitia di depan. Yang ada dalam pikiranku adalah kerja dan kuliah. Bahkan mataku tidak melihat orang-orang disekitarku. Aku bengong. tepat dibelakangku ada orang berdiri hendak lewat ke depan. Dia menyentuhku, membuyarkan lamunanku. Aku kemudian menoleh kebelakang. Dia tersenyum ramah kepadaku. Aku paham maksutnya – dia minta jalan. Dia tidak bisa lewat karena terhalang aku.
Aku bergeser sedikit ke arah barat. Sekiranya ada jalan yang bisa dia lewati. Kakinya melangkahi lutut kananku. Aku memandangi rambutnya. Aku tertarik kepada rambutnya. Unik banget. Rambutnya krebo sehingga kepalanya terlihat besar sekali dibandingkan badannya. “berat tidak ya rambut segede itu?” pikirku.
Kemudian aku menoleh ke belakang. Sepertinya ada salah satu panitia sedang berdiri di belakang. Aku mau izin dulu untuk meninggalkan ruangan. Aku mau ke kampus dulu, mengikuti ujian PPL. Aku berdiri menghampiri mas Rahman – panitia yang berdiri di belakangku. Sambil tersenyum aku meminta izin kepadanya. Akan tetapi dia tidak mengizinkan.
Aku kembali ke tempat dudukku semula. Aku terdiam lagi. Bingung apa yang harus aku lakukan. Pandanganku tertunduk. Berpikir keras. Okey, aku harus buat keputusan dan keputusanku adalah kuliah. Kuliah harus aku nomor-satukan. Pendidikanku lebih penting. Aku harus ingat bahwa aku ingin S2. Tidak boleh berhenti di S1 saja. Sebab di era modern ini, S1 ibarat seperti anak lulusan SMA atau yang lain. Artinya sarjana S1 saat ini sudah banyak sekali. Tentu lapangan kerja lebih membutuhkan tingkat pendidikan yang lebih tinggi yakni S2.
“bismillah, aku milih kuliahku,” batinku meyakinkan diriku sendiri.
Kemudian aku bangun dan menghampiri mas Rahman.
“Mas, saya pamit mau ke kampus. Karena hari ini saya ujian PPL,” ucapku berpamitan.
“Oh iya mas. Berari mas sudah tidak bisa bergabung dengan kami,” ujarnya sambil bersandar ke tembok.
“Iya, mas. Tidak apa-apa. Terima kasih ya sudah memanggil saya untuk interview, meski ada hal lain yang tidak bisa saya lepaskan,” jawabku.
Kujabat tangannya. Lalu aku pergi keluar ruangan.
Sinar matahari langsung menyambutku dengan lembut. Menyadarkan aku bahwa di luar sana masih banyak pekerjaan. Yang penting saat ini aku harus fokus mengejar pendidikan. Saya yakin dengan sabda Nabi Muhammad SAW bahwa dengan ilmu maka dunia dan akhirat akan mengikutiku. Tidak usah takut, Mid. Justru kamu jangan mau dipekerjakan orang. Kamu harus memperkerjakan orang, menggaji mereka, menghidupi mereka. Para direktur aja bisa, masak saya tidak bisa. Wong makannya ya sama-sama nasi.
Aku melangkah menuju tempat parkiran, mengambil motorku. Setelah beberapa detik mencari dimana aku memarkirkan motorku, akhirnya ketemu juga. Bingung mencari motor di tengah motor yang berjubel. Aku dorong motorku ke luar area parkiran. Kemudian aku duduk di atas motor bututku sebelum akhirnya melaju kencang menerobos jalan raya. Aku menghela nafas dalam-dalam. Membuang semua pikiran negatif dan mengisi ulang dengan harapan yang positif.


Ada pengorbanan – baik itu tenaga, waktu, uang maupun pikiran – untuk masa depan yang lebih cerah. Bagaimana kau akan merasa kenyang jika tidak diawali dengan memasak atau membeli makanan?”

0 komentar:

Posting Komentar