About


Get this widget:

Kamis, 07 Desember 2017

ANTARA AKU DAN SEMUT HITAM

ANTARA AKU DAN SEMUT HITAM
Oleh: Must Hiday
“Saya yakin bahwa semua usaha yang kita lakukan pasti akan menghasilkan kesuksesan”. Prinsip itu yang saya pegangi kuat-kuat untuk memotivasi diri terus mengembangkan potensi diri. Karena Allah SWT adalah Tuhan yang MahaAdil. Allah SWT tidak akan mendholimi hamba-Nya. Akan tetapi terkadang ada usaha yang tidak membuahkan hasil. Lantas apa karena Allah SWT mendholimi kita? Jawabannya tentu tidak! Mungkin usaha kita yang belum maksimal sehingga untuk mencapai cita-cita kita sudah kehabisan bensin. Ya ibaratnya seperti ketika kita mau bepergian ke suatu tempat. Nah untuk mencapai tujuan tersebut, kita memerlukan bensin dua liter. Tetapi, kita malah mengisi tanki motor hanya satu liter. Janji mau kiamat juga tidak akan sampai kalau gitu. Hahaha
Itu yang aku alami saat ini. Aku masih proses. Masih setengah jalan. Dan masalah terus saja datang bertubi-tubi, ingin melenyapkan aku dari peredaran orang yang ingin sukses. Saya anggap masalah itu hal yang wajar. sebelum menikmati indahnya keberhasilan, kita harus menikmati dulu getirnya proses. “Bukankah nikmatnya berbuka puasa, hanya bisa dinikmati oleh yang berpuasa?”
Jujur saja. Aku bingung sebenarnya – entah karena memang ada banyak hal yang bisa aku lakukan, apa emang karena aku tidak bisa apa-apa. Pada satu sisi, aku ingin mengembangkan bisnis lukisanku yang sudah berjalan sekitar dua tahun. Namun, sampai sekarang aku belum pernah ngerti berapa keuntungan bisnis ini. Apa aku boros apa tidak, yang jelas uangnya selalu habis untuk makan. Menurutku, alasannya adalah karena hasil bisnis lukisan tidak banyak.
Kalau melihat orang lain – sama-sama melukis, mereka lebih kaya karena mereka berani pasang harga tinggi. Sah-sah saja mereka seperti itu, wong skill-nya juga sudah “Pro”. Hla aku mau pasang harga tinggi juga? Hellooooo. Tidak berani lah ya. Aku bisa apa dan tahu apa tentang lukisan. Aku saja baru lahir kemaren ke dunia lukis, kok mau langsung lari. Jatuh tersungkur malahan. Dan pelanggan-ku pada lari.
Sedangkan di sisi lain, aku ingin menjadi penulis-penerjemah. Nah, kalau yang satu ini, aku menaruh harapan besar. Aku bisa memanfaatkan kemampuan menulisku yang “beginner” ini untuk membuat cerpen atau sekedar tulisan “unfaedah”. Bagus tidak tulisanku, sebenarnya aku tidak peduli. Aku merasa senang saja ketika menuangkan pikiran-pikiran cabulku ke dalam Microsoft Word. Bukan cabul beneran lho. Maksutku aku merasa bebas saja saat tanganku mengetik kata perkata dari kepalaku yang tidak jelas dan aneh. Bahkan dulu, pernah ada yang tanya: “Ini tulisan jenis apa to?” bukan menjawab, malah diam. Aku juga bingung itu tulisan apa; cerpen bukan, diari juga bukan, apalagi makalah kuliah. Bukan. Dan aku tidak tahu.
Pagi-pagi ini enaknya memang minum kopi hitam dengan asap yang masih mengepul di atasnya. “Mmmmmm, nikmat betul”, batinku sembari meminum secangkir kopi buatan sendiri. Kupejamkan mataku untuk meresapi bagaimana keharuman rasa kopi – tentunya juga berusaha mencari makna yang tersembunyi dibalik adukan sendoknya.
Aku sndirian di kamar pondok. Teman-teman sekamarku pada pergi kuliah. Maklum mereka masih semerter awal, sedangkan aku sudah semester tua – semester tujuh. Ya tidak tua-tua amatlah ya. Aku duduk bersandar ke lemari bajuku sambil main laptop. Seperti biasa, nulis yang iya-iya (masak yang enggak-enggak. Ngapain coba nulis yang enggak-enggak). Sesekali aku berhenti menulis untuk memejamkan mata, mengumpulkan ide-ide terbengkalai menjadi satu kesatuan atau sekedar untuk menyedot WC. Eh WC? Kopi mbah. Bukan WC. Segede itukah mulutku sampai bisa untuk sedot WC.
Aku melirik ke bawah. Ada segerombolan geng semut sedang berjalan rapi. Mau tawuran kali ya. Oh tidak ternyata. Mereka mencari makanan untuk menafkahi keluarga mereka. Sebagian besar mereka berhasil mendapatkan sesuap makanan. Mereka berjalan pulang sambil menggigit – anggap saja makanan mereka tadi. Sebab, tidak jelas  yang mereka bawa itu makanan apa baatu – hitam bulat kecil. Kemudian mataku tertuju pada beberapa semut yang masih muter-muter dan maju-mundur-cantik mencari rizki mereka.
Kasihan juga melihatnya.
Beberapa semut hitam tadi terus berusaha kesana-kemari mencari makanan. Padahal kalau mereka mau berjalan lurus ke arah timur, pasti mereka akan menemukan makanannya. Tapi sayang, mereka tidak tahu. Aku terus mengamati beberapa semut tersebut. Lalu, karena merasa kasihan, kudekatkan secuil makanan yang sedang dicari lebih dekat kepada mereka. Setelah beberapa saat, akhirnya mereka menemukan makanan tadi. Alhamdulillah, aku bisa membantu hewan yang sedang kesusahan.
Tiba-tiba mataku terbelalak sedikit. Bisa dibilang “Semi-Mendelik”. Aku sadar akan satu hal dari fenomena semut pencari nafkah. Apakah seperti ini Tuhan dengan segala sifat –Nya yang Penyayang, Pemurah, Adil, ketika memandang hamba-Nya yang sedang berusaha keras mati-matian mencari nafkah yang halal? Pikirku. Seperti ketika aku sedang menyaksikan usaha keras semut tadi yang pantang menyerah?
Mungkin awalnya Allah SWT berdiam diri dulu menyaksikan hamba-Nya sedang berusaha keras pantang lelah dan selalu berdoa kepada-Nya. Allah SWT ingin mengajarkan kita bermanja meminta bantuan-Nya, Allah SWT mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya kita menghadirkan orang yang paling kita sayangi dan kita butuhkan ke dalam hati kita, kita diajarkan dulu bagaimana seharusnya kita menjadi pemimpin tangguh, diajarkan bagaimana seharusnya kamu meletakkan kasih dan cintamu di bawah tanggung-jawabmu. Tuhan perduli kepada kita. Ketika Allah SWT sudah yakin bahwa kita benar-benar membutuhkan, maka “kun fayakun”. Cita-cita kita berhasil, apa yang dikejar akan tercapai.
Romantika Allah SWT kepada semut saja sungguh sangat menyentuh. Aku dipilih untuk menjadi sebab jatuhnya cinta-Nya kepada makhluk kecil tersebut. Bagaimana kalau semut itu adalah aku, siapa yang akan menjadi sebab jatuhnya cinta Allah kepadaku sehingga aku yakin menempuh jalanku untuk meraih kesuksesan. Toh hasilnya juga akan kita nikmati bersama besok dengan anak-anak kita. Ihiiirrrrr.
Ah, keren banget...
Begitu lembut dan sabarnya Allah SWT menuntunku, mendidikku, memperhatikan aku dan memotivasi aku.



TAMAT

0 komentar:

Posting Komentar