About


Get this widget:

Jumat, 02 September 2016

BELAJAR UNTUK SADAR “BODOH”



BELAJAR UNTUK SADAR “BODOH”
Belajar untuk menjadi “bodoh”, kalimat itu yang akhir-akhir ini aku renungkan. Benarkah demikian? Aku meragukan kata-kata isapan jempolku itu. Sekilas memang konotasinya adalah belajar untuk menjadi bodoh, tidak mengerti apa-apa, menyerah pada kemandekan nalar. Kata-kata tersebut pun pernah aku diskusikan dengan temenku – dia sangat suka kalau diajak berdiskusi tentang keilmuaan. Dan katanya pun begitu, bodoh berarti tidak tahu apa-apa. Padahal belajar ya untuk menjadi pintar. Semua orang pun tahu bahwa tujuan dari belajar adalah menghilangkan kebodohan. 

Namun sebetulnya maksutnya bukan seperti itu. Bagiku dalam mengartikan segala teks tidak dengan secara lughawy, aku lebih suka menafsirkannya secara majaz. Namun  tetap pada maksut kandungan. Jadi sebenarnya yang aku maksut adalah kita belajar untuk menyadari bahwa kita ternyata tidak tahu apa-apa, ternyata ilmu yang kita tekuni masih jauh dan masih banyak yang tidak kita tahu. Di atas langit ada langit lagi. 

Umpamanya, basik kita adalah mengerrti tentang keilmuan agama, sedangkan kita ingin menyaampaikan ilmu kita kepada orang lain agar mereka mengerti dan paham. Namun ketika kita hendak mengajarkannya kita mendapatkan kesusahan dalam bagaimana cara menyampaikannya dengan membuat orang lain suka dengan keterangan kita. Eh, ternyata ada ilmu baru yang tidak kita mengerti, yaitu ilmu tentang metode pembelajaran. Contoh lain, orang yang ahli dalam bidang biologi, kimia, atau seorang astronot. Dengan keilmuan yang ia miliki, tentunya dia akan semakin sadar ternyata dunia ini, tubuh kita, zat-zat kimia yang ada di alam ini sangat banyak dan bermacam-macam, ternyata ada hal-hal yang tidak bisa diobservasi. Sehingga dia akan terus belajar. Dan ketika sudah menguasi ilmu yang sebelumnya belum dimengerti, dia semakin sadar lagi ternyata ada ilmu lagi yang belum dia ketahui. Terus seperti itu.

Sehingga semakin dia pintar, ahli, dia tidak semakin sombong denganilmunya. Dia akan merendahkan hatinya, dia akan merasa sangat kecil di depan alam, kemudian dia sadar betapa agungnya yang menciptakan dunia seisinya ini, Allah. Dia juga tidak akan puas dan berhenti pada ilmu yang ada_yang sebetulnya tidak ada apa-apany. Dia akan merasa malu untuk menyombongkan diri.

          Ilmu yang bermanfaat dan mulia adalah ilmu yang bisa mengantarkan pada ketakwaan kepada Allah. Semakin cinta kepada Allah dan ilmunya Allah, mejauhi segala larangan Allah.[1] Sehingga derajatnya akan diangkat Allah lebih tinggi dari yang tidak mempunyai ilmu atau mempunyai ilmu tetapi malah tambah sombong dengan ilmunya. Sebab, Allah mengangkat derajat orang tidak sembarangan. Allah maha selektif dalam memilih. Makanya dalam diri orang-orang yang Allah pilih terdapat uswah. Lantas bagaimana orang yang tidak bertakwa – karena ilmunya tidak bermanfaat – bisa terdapat uswah. Orang yang diangkat derajatnya itu dikarenakan sesuainya antara ilmu dengan perbuatannya dan perbuatan dengan ilmunya. Itulah orang ‘alimun.

Terkait masalah ini saya jadi teringat dengan kata-kata Rudy_nama BJ. Habibie ketika kecil. Ketika Rudy berhasil dalam kariernya di jerman. Dia ditanya kenapa kok dia bisa naik jabatan begitu cepat. “Saya bekerja dengan giat dan tekun bukan karena alasan jabatan, saya bisa begitu asik dengan pekerjaan saya karena saya ingin mendalami ilmunya”, jawab Rudy.

Jadi, ilmu yang baik dan bermanfaat adalah ilmu yang membuat kita tidak sombong. Ilmu itu akan membuat kita sadar awak dewe iku sopo. Sehingga tidak akan lupa diri. Eh, mentang seorang professor, mengganggap rendah orang yang lebih rendah dibawanya. Eh, mentang tahu masalah taktik pemasaran, dia lantas memicingakan bibirnya, sombong. Cobalah, kita hayati apa yang kita pelajari. Tanamkan dalam hati kita bahwa ilmu ini adalah milik Allah. Masih banyak sekali ilmu Allah yang belum bahkan tidak bisa manusia ketahui. Seperti pepatah, semakin berisi padi, semakin merunduk. Semakin tinggi keilmuannya semakin ia men-tawadlu’-kan diri.

                                                                                      Fahiya al-‘Azmy


[1] Ta’lim al-Muta’allim lis Syaikh Ibrahim ibnu Ismail. Page, 6

jangan lupa kunjungi http://pencilkubarokah.blogspot.co.id/2016/09/pengertian-konsep-tawadhu-rendah-hati.html 

selamat membaca!!!!

0 komentar:

Posting Komentar