About


Get this widget:

Senin, 28 November 2016

APA YANG SALAH DENGAN SARUNG?

APA YANG SALAH DENGAN SARUNG?



Sarung merupakan benteng muru'ah. Kenapa saya katakan “benteng muru'ah? Karena dengan memakai sarung seseorang akan malu untuk melakukan hal-hal yang melenceng dari “sarung”. Yakni terkait syara'. Misalnya, di bis dalam suatu perjalanan, seorang akan malu dengan sarungnya jika dia mencuri dompet orang lain atau melakukan pelecehan seksual. Sehingga dia tidak jadi melakukannya. Dia akan mikir dua kali; kalau nanti aku melakukannya, bagaimana dengan harga diriku? Bagaimana agamaku? Andai kata seseorang tersebut tidak mengenakan sarung kemungkinan besar sudah berbuat yang tidak-tidak.

Akan tetapi perisai sarung tersebut hilang hanya karena saat ini banyak yang memakai celana. Sehingga mau ke mall, misalnya, malu dan takut dipandang sebelah mata. Sarung diabaikan karena takut dianggap tidak ssesuai dengan adat, atau mungkin dianggap teroris. Sekarang pertaanyaannya adalah apakah martabat orang akan jatuh karena sarung? Orang yang mengikatkan kain di perutnya itu adalah orang miskin? Apakah dengan memakai sarung akan ditangkap polisi karena dcurigai mengebom? Tidak toh?!

Semua anggapan negatif yang akan keluar dari mulut orang yang yang antipati dengan Islam dan cekikik tawa yang mengganggu pendengaran ketika lewat di depan mereka, mungkin karena belum tahu tentang “penyarung”. Mereka perlu didekati dengan akhlak yang luhur. Bukan dibalas dengan cibiran dan makian juga. Saya yakin mereka yang membenci kaum sarungan belum mengenal betul siapa sih kaum sarungan itu. They hate us, because they are not us. Mereka membenci kita, karena mereka bukan kita.

Berbicara tentang sarung, tentu juga akan membahas orang yang sering memakainya, yaitu santri. Santri berarti orang yang hidup dan belajar di suatu lembaga “education is along life” pondok. Adapun pondok sendiri adalah lemabaga pendidikan islam yang menjadi penyeimbang pendidikan dari pemerintah. Ketika sosial ini mengalami krisis moral para pemimpin formal, maka santri hadir sebagai pemimpin tauladan non-formal.

Pondok bukanlah basis sarang tetoris! Namun pondok pesantren tersebut perlu digaris bawahi lagi lebih spesifik. Pondok yang bagaimana? Sebab, akhir-akhir ini pondok tidak hanya dari ormas Nahdlatul Ulama saja, pondok pesantren yang didirikan oleh paham radiklasisme pun ada. Akan tetapi pondok pesantren yang didirikan dari orang NU tidak akan searogansi pondok radikalasis. Seperti yang kita tahu saja. Santri-santri NU akan senantiasa memegang filosofi sarung, merangkul, moderat dan openmind. Ya, meski terkadang budaya konserfatis, memandang suatu permasalahan dari segi “hitam-putih”, namun tidak akan sampai hati mengakhiri hidup dengan meledakkan diri atau dengan membantai orang lain yang tidak sepaham.

Sekali lagi, kaum sarungan tidaklah negatif seperti yang terpikirkan kebanyakan. Ada sebuah cerita yang membuktikan bahwa orang bersarung bukanlah orang yang keras, miskin, atau katrok. Cerita ini saya alami sendiri ketika sedang mengantar Kiai saya dulu keluar kota. Beliau ingin beli mobil baru. Padahal mobil di rumah sudah tiga,, namun harus nambah lagi untuk kepentingan pondoknya. Beliau masuk ke toko mobil, dan melihat-lihat mobil yang hendak dibeli. Seorang pelayan kemudian menghampiri Kiai dan bertanya “ada yang bisa saya bantu, Pak?”. Kiai menjawab dengan senyuman yang tulus kepada pelayannya, “saya mau cari mobil Alphart, Mas.” sontak pelayan tersebut kaget. Saya dapat melihat ekspresinya ketika mendengar jawaban Yai. Mungkin di dalam benaknya tidak mungkin orang sarungan bisa membeli mobil, hla ini malah mau beli mobil Alphart. Mas pelayan tadi akhirnya hormat kepada Kiai, bahkan kalau ngomong sambil menundukkan pundaknya.


Dari peristiwa tersebut ada satu hal yang dapat dijadikan bahan evaluasi bagi kaum santri bahwa mereka kurang memperkenalkan diri kepada orang lain, tidak berani menunjukkan identitas dirinya. Sehingga selamanya dia tidak akan dikenal dan selamanya image santri jelek, teroris, dan kolot. Padahal santri itu bisa kaya, modern, dan moderat. Ucapan mudahnya, bagaimana orang lain bisa mengenali kita, kalau kita tidak menunjukkan diri dan memperkenalkan diri terlebih dahulu kepada mereka. Di mall aja takut pake sarung dan malu mengenakannya. Apalagi tampil di forum sebagai media dakwah, minder mesti. Banggalah menggunakan sarung!

terima kasih sudah membaca..
baca juga ya:

0 komentar:

Posting Komentar