About


Get this widget:

Jumat, 18 November 2016

HANYA PERLU MEMBIASAKAN DIRI DAN BERTEKAT


HANYA PERLU MEMBIASAKAN DIRI DAN BERTEKAT
Oleh: Must_Hamid
     Kita tenttu sering melihat orang-orang kaya, pengusaha, mobil mewah, namun taraf pendidikannya tidak tinggi, standart, bahkan rendah. Di lain pihak, ada orang yang memiliki pendidikan tinggi, mempunyai titel akademik S1 sampai S2, namun masih menganggur, tidak memliki usaha. Mau nebeng usaha orang lain saja susah. Jadi mana yang benar?? mengapa pendidikan tinggi tidak menjamin kesuksesan seseorang? Malah justru orang yang berpendidikan rendah dapat tampil sebagai pengusaha sukses. Banyak orang yang dulu sekolahnya rendah, orang yang kuliah namun kemudian di drop out, menjadi sorotan masyarakat, pemikiran brilian, usaha yang dapat menembus pasar internasional. Sebetulnya apa sih yang menentukan kesuksesan itu? Apa harus dikolaborasi antara pendidikan yang tinggi dan tekat untuk kaya?
     Dalam benak penulis, fenomena tersebut memang terletak pada faktor keseimbangan tekat, bagaimana seseorang yakin dan optimis untuk mencapai kesuksesan dan pendidikan tinggi. Karena selama ini, ya katakanlah, seorang pengusaha sukses dalam pemasaran produknya, akan tetapi dia tidak sukses dalam pendidikannya. Padahal pendidikan pun merupakan hal penting. Begitu juga sebaliknya, seseorang sudah sukses meningkatkan taraf pendidikannya setinggi mungkin, S3 misalnya, tetapi orang tadi malah kehidupan finansialnya biasa-biasa saja, lebih ironi lagi, melarat.
      Oleh karena itu, keseimbangan tekat antara pendidikan dan usaha sangatlah penting. Logikanya, multi sukses dengan sukses dalam satu sektor lebih enak mana? Tentu lebih enak yang pertama tho? Memang yang harus kita bayar untuk itu tidaklah murah. Kita harus selalu keluar dari zona nyaman kemampuan kita. Kita harus menggodok potensi yang dianugrahkan Allah secara kontinu sehingga potensi tersebut dapat matang penuh. Tidak matang pada bagian-bagian tertentu.
     Masalahnya adalah kebanyakan dari kita tidak percaya akan kemampuan diri yang luar biasa. Manusia sangatlah luar biasa. Di dalam diri manusia terdapat otak yang dapat menampung beribu-ribu bahkan bertriliyun-triliyun informasi pengetahuan. Namun karena rasa tidak percaya kepada kebesaran Tuhan tersebut, nikmat tersebut harus terbengkalai. Atau dikarenakan rasa takut yang menggerogoti pikiran manusia.
      Manusia diciptakan dengan banyak sekali kemampuan, jadi tidak hanya satu kemampuan. Kemudian tinggal bagaimana menggali semua itu. Sebetulnya kan, seperti yang dikatakan oleh vashdev, manusia adalah makhluk kebiasaan. Artinya segala kehidupan manusia, baik adat, norma, huku, bahkan agama sekalipun, karena kebiasaan. Keilmuan dan kemampuan juga tergantung seberapa sering manusia membiasakan semua itu. Misalkan saja, seseorang sering belajar dan bermain piano, sudah tentu ia akan mahir memainkannya. Setelah orang tersebut menguasai piano, kemudian coba membiasakan diri dengan gitar dan hal yang berhubungan dengan gitar. Tak lama lagi dia akan menjadi lincah memetik gitar. Lho, Sudah dua bidang musik yang dikuasai; piano dan gitar.
     Mungkin contoh di atas terlalu susah difikirkan, kita sederhanakan saja contohnya, misalkan dulu kita belum bisa naik sepeda ontel kemudian kita latihan terus, setiap hari membiasakan diri menaikinya. Dalam waktu kurang dari seminggu, kita sudah bisa jalan-jalan dengan sepada ontel. Lalu, suatu saat kakak kita punya sepeda motor. Kita ingin sekali bisa mnegoprasikan sepeda motor tersebut. Lantas kita latihan dan terus latihan hingga kita terbiasa menaikinya. Dari sepeda ontel hingga sepeda motor dapat kita kuasai hanya dengan membiasakan diri.
       Hidup ini terlalu panjang untuk menyia-nyiakan anugrah Tuhan. Untuk apa agama mengajari kita untuk belajar sepanjang hidup. Artinya kita dtuntut untuk membiasakan diri dalam hal-hal positif. Kalau kita belajar dengan pikiran membiasakan diri, tidak berfikir “wah ini susah banget”, kita akan dapat menjadi orang multitalent.
      Kebiasaan tersebut kemudian disupport dengan tekat yang kuat. Tekat ibarat dalam sebuah mesin ada pelumas agar mesin tersebut lancar tidak ada yang “seret”. Dalam menempuh pendidikan dan karir pun, selain membiasakan diri dalam belajar dan berusaha, juga harus memiliki greget. Saya harus menjadi penulis! Dan selalu berusaha mewujudkannya dengan cara mengikuti latihan jurnalistik, mengikuti seminar, membaca buku, dan hal-hal lain yang berkaitan.
      Oleh karena itu, membiasakan diri dan bertekad merupakan hal yang penting untuk mencapai multipel kesuksesan. Dan kita tidak akan merasa terbebani dalam menggali kemampuan tersebut. Bahkan akan terasa seperti sedang melakukan aktifitas sehari-hari.

0 komentar:

Posting Komentar