About


Get this widget:

Jumat, 19 Januari 2018

SEORANG PEMUDA DAN ANTOLOGI PUISI


Oleh: Must Hiday

Hamy meloncat kegirangan. Dia senang sekali karena baru saja menyelesaikan buku pertamanya, antologi puisi yang ia kasih judul “Mengalir Selirih Beledu”. Buku itu adalah buku pertamanya. Dia suka menulis dan sering meng-upload tulisannya di blog pribadi atau mengirimkannya ke redaksi media cetak. Ya meski sering kali ditolak. Bahkan sampai detik saat ini pun dia terus ditolak media. Dia bingung kenapa selalu ditolak, itu yang terus menghantui pikirannya. Tapi dalam hatinya yang paling dalam tidak pernah peduli dengan penolakan tersebut. Dia hanya ingin menulis dan terus menulis. Dia sangat yakin bahwa tidak ada hal yang sia-sia jika kita niatkan untuk memberikan manfaat kepada orang lain.
Teman sekamarnya pada bengong melihat tingkah anehnya. Mereka tidak menegur atau menanyakan gerangan apa membuat Hamy berjingkrak-jingkrak seolah sedang kemasukan setan. Temannya diam saja melihatnya.
Hamy berusaha mengontrol rasa senangnya itu setelah setengah sadar sedari tadi teman-teman sekamar memandangi tingkahnya. Kemudian dia melangkah keluar kamar, ingin jalan-jalan keluar sebentar sambil menenangkan pikirannya – yang dia gunakan selama hampir 2 jam untuk menulis tiga halaman terakhir dari naskahnya.
“Alhamdulillah, ya Allah. Naskahku sudah selesai dan siap untuk ditawarkan kepada penerbit,” katanya dalam hati. Dia menaiki motor jadulnya berwarna hitam putih berkeliling dari kampung satu ke kampung lain.
Namun tiba-tiba ada satu permasalahan yang selama ini tidak terpikirkan olehnya. Dia adalah seorang pendatang baru dalam dunia penulisan buku, tentu banyak sekali hal-hal yang belum dia mengerti, mulai dari penerbit mana yang cocok, bagaimana menawarkan naskah kepada penerbit, sampai tahap penerbitan buku.
“Aduh, bagaimana, yo?” gumamnya, memelankan laju sepeda motornya. “Ah, tenang saja. Ada internet yang menyediakan banyak informasi tentang penerbit dan cara penerbitannya,” batinnya. Pikirannya sudah mulai tenang.
Berkeliling selama hampir setengah jam membuatnya jenuh. Dia harus balik ke pondok. Dia tidak boleh terlalu lama keluar pondok, kalau ketahuan pengurus bisa berabe nanti. Cepat-cepat dia mengambil jalan pintas menuju pondok. Motor bututnya dipaksa melaju dengan kencang melebihi kemampuan kuda besinya itu. Sampai-sampai suaranya cempreng memekak keras di tengah kampung. Hamy sudah tidak memperdulikan itu. Lagian motornya emang sudah tua, jadi wajar suaranya berisik, pikirnya.
Halaman pondok yang tidak begitu luas terlihat sepi. Pintu rumah pengasuh juga tertutup rapat. Hamy langsung lari kecil melangkah menaiki tangga menuju lantai dua – untuk tempat tinggal santri putra, sedangkan santri putri tinggal bersama pengasuh di lantai satu tapi di bagian belakang.
Saat ini Hamy tinggal di pondok pesantren khusus mahasiswa, Al-Khoir, sambil menyelesaikan kuliah S1-nya di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Aula yang cukup besar dengan cat orange bagian dinding sedangkan atap dicar warna putih memunculkan suasana yang cerah. Biasanya para santri shalat di sini bersama Kiai Mushtafa, pengasuh. Kata teman-teman Hamy dari luar pondok yang main ke situ sering mengatakan kalau pondoknya itu besar, bersih dan nyaman. Malah ada yang bilang bukan pondok, lebih tepatnya asrama. Karena tidak ada pondok yang sebagus ini.
Sesampainya di kamar, Hamy langsung membuka laptop. Teman-temannya sudah pada hilang ternyata, pada kuliah. Maklum mereka masih mahasiswa baru. Sedang Hamy sudah Mapala (Mahasiswa Paling Lama), semester tujuh. Dan hebatnya, dia sudah hampir selesai dengan skripsinya, tinggal satu bab lagi.
Tanganya dengan cepat mengetik di kolom pencarian. “Penerbit yang mau menerima naskah buku puisi”. Telunjuknya menekan tombol “Enter”.
Mungkin kalian bertanya, kok pakai jari telunjuk? Kenapa tidak kelingking atau jari tengah? Aku juga bertanya seperti itu, teman-teman. Setelah aku selidiki ternyata jarinya Hamy telunjuk semua, wkwk...
tidak lucu ya? Ya sudah, lupakan saja.
Mata Hamy langsung tertuju pada baris ke dua daftar list penerbit. Maaf aku tidak boleh menyebutkan nama penerbitnya. Sebut saja Penerbit Jaya. Tangannya berpangku pada mulut dan dagu, konsentrasi membaca halaman di layar laptopnya.
Dia membaca dengan sangat teliti bagaimana prosedur pengiriman naskah di redaksi tersebut. Dari atas hingga bawa, tidak ada satu kata pun yang terlewatkan. Dia memang punya niatan serius untuk menerbitkan bukunya. Terkadang kepalanya mengangguk-angguk tanda paham.
Tidak perlu babibu, laki-laki yang berperawakan gemuk berambut gelombang itu langsung membuka E-mail. Mengetik alamat yang dituju. Meng-upload naskahnya. Dan “Klek!” bunyi tombol entek kepencet jari telunjuknya. Dia berhasil mengirimkan naskah ke sana.
“Ya Allah, moga-moga diterima. Amin,” dia berdoa dalam hati penuh harap semoga impiannya dikabulkan.
Dia merebahkan tubuhnya diatas kasur. Mengela nafas. Pikirannya capek secapek tubuhnya. Kantuk secara perlahan mulai menyelimutinya dari ujung kaki naik menuju tubuhnya dan kepalanya. Dia terlelap.
@@@
Sorenya dia kembali mengecek Email-nya. Dan ternyata sudah ada inbox masuk. Matanya fokus pada tulisan nama pengirimnya. “Wah! Dari redaksi!” hatinya berdebar sekaligus penasaran.
“Assalamu’alaikum, mas Hamy. Kami dari redaksi Penerbit Jaya memohon maaf belum bisa menerima naskah yang bergenre sastra. Sementara ini, kami sengan meng-cut-off naskah sastra. Kami juga belum bisa memastikan kapan akan membuka lagi untuk naskah sastra. Kami Mohon maaf yang sebesar-besarnya.” Isi pesan redaksi kepada Hamy.
Ada rasa kecewa dalam hatinya. Usahanya selama ini belum menemukan hasil. Ada apa yang salah dengan sastra puisi, sehingga harus di cut-off seperti itu? Apakah penerbit lain juga sama seperti itu? Padahal dia ingin segera memiliki karya pertamanya dalam bentuk sudah menjadi buku. Meskipun nanti mengeluarkan biaya percetakan, dia tidak mengapa. Yang terpenting adalah dia memiliki buku seperti penulis lain.
Tangannya langusng mengetikkan kalimat di browser-nya. Dia ingin tahu seberapa besar dan banyak penerbit menerima karya sastra terutama puisi. Mulai dari situs satu, pindah ke situs yang lain, ia baca. Dan kebanyakan situs tersebut mengatakan puisi kurang banyak peminatnya sehingga penerbit berpikir dua kali untuk menerbitkannya.
Hamy memejamkan mata. Menghela nafas dalam-dalam.
“Kamu kenapa, My?” Tanya teman sekamarnya yang dari tadi memperhatikan Hamy begitu serius melihat laptop.
“Aku bingung, Mbah.”
Mbah adalah nama panggilan. Adapun nama aslinya adalah Hidayatullah.
“Ngapain bingung?”
“Penerbit yang aku harapkan bisa menerima naskah puisiku malah sedang meng-cut-off naskah sastra.”
Hla sudah mencari penerbit lain belum?... pasti masih banyak penerbit lain yang menerima naskah puisi. Cari aja.”
“Tidak tahu lagi aku, Mbah. Rasanya pengen menyerah saja menulis puisi.” Kataku dengan nada lemes.
“Jangan menyerah. Pasti nanti ada hasil kalau kamu terus berusaha. Masak baru sekali saja sudah lembek begini.” Katanya menyemangati.
Hamy diam merenungkan omongan temannya. Bener juga, batinya mulai sadar.
“Atau kamu cari tahu ke teman kamu tentang penerbit. Eh, siapa tahu ada yang punya kenalan penerbit atau malah temanmu sudah ada yang menerbitkan buku. Kamu bisa belajar kepada mereka, My.”
Seketika itu juga, Hamy teringat temannya yang sudah menerbitkan buku antologi puisi. “Oh ya, aku punya teman. Dia sudah menerbitkan satu buku antologi puisi. Namanya Baim. Temen seangkatanku di kampus.” Ucap Hamy dengan nada yang berbeda dari sebelumnya. Kali ini dia bersemangat. Dia sudah menemukan titik terang dari permasalahannya.
“Nah itu, kamu bisa sharing-sharing dengan dia.”
“Terima kasih banyak ya, Mbah, sudah memberiku solusi dan menyemangatiku.”
“Ya itulah gunanya teman, My. Makanya kalau ada masalah jangan sungkan untuk berbagi dengan teman kamu. Tapi ya jangan masalah tok yang dibagi ke temenmu. Bahagia kamu ambil sendiri. Bahagiannya juga dibagi lho...” matanya memandang Hamy dengan pandangan beda.
“Haha... kode keras ini. Langsung saja bilang kalau kamu mau honor-ku kan?”
“Nah itu tahu.” Jawabnya simpel.
Mereka berdua tertawa terbahak-bahak.
Hari sudah mulai gelap. Sebentar lagi waktu maghrib akan tiba. Dari dalam kamar, langit sore di luar terlingat begitu merah. Tapi indah dengan sederet awan yang terkena bias warna orange. Sesekali ada sekelompok burung melintas di atas sana.
Allahu akbar. Allahu akbar....
Suara azan sudah memanggil umat Islam untuk menunaikan kewajiban agamnya. Begitupun dengan Hamy. Mendengar suara panggilan tersebut, dia langsung melangkahkan kakinya menuju tempat wudlu.
Ya, dia ingin berbagi dengan Allah SWT. Dia ingin tenang bersama-Nya. Dia juga berencana merayu Tuhannya. Dalam hatinya, siapa tahu nanti Allah langsung meng-ACC doaku.
@@@
Selepas shalat isya’ berjamaah, Hamy langsung membuka tablet. Tangannya sibuk mengelus-elus layar gadget-nya. Mencari satu nama yang dia harapkan bisa membantunya mengenalkan beberapa penerbit. Lain kali ada yang cocok, pikirnya.
“Assalamu’alaikum, im,” tulisnya di dalam chat. Tangan Hamy menyentuh tombol panah di sebelah kanan layar. Mengirim pesan.
Sambil menunggu balasan dari temannya, Hamy membuka laptopnya, sekedar untuk membaca ulang karyanya. Siapa tahu ada yang salah di dalam tulisannya. Matanya dengan jeli menatap satu kata perkata sembari pikirannya mengingat-ingat teori EYD yang pernah dipelajari waktu di MA. Ya meski tidak menutup kemungkinan sudah mengalami perubahadan ejaan di dalam bahasa Indonesia.
Tiba-tiba HP-nya bergetar. Tangan kanannya dengan cekatan meraih HP yang tergeletak di atas kasur. “Wa’alaikum salam, My. Ada yang bisa aku bantu?” tulis Baim membalas chat Hamy.
“Gini nih, Im. Aku kan sudah membuat satu naskah antologi puisi. Tapi aku bingung bagaimana cara menerbitkannya. Apalagi aku tidak punya kenalan penerbit. Ya, mungkin kamu bisa bantu aku, Im.”
“Ingsya Allah aku bisa bantu, My. Tapi, pertama, aku boleh baca hasil karyamu? Biar aku tahu dimana kekurangan dari tulisanmu.” Pintanya. “Kirim lewat E-mail saja, My. Ini alamat E-mail-ku Baimihirr@gmail.com,” lanjut Baim.
“Wah, okey, Im. Nanti aku kirim ke E-mail kamu. Sebelumnya terima kasih banyak ya sudah mau membantu.” Kata Hamy merasa bahagia. Satu langkah sudah mulai menampakkan harapannya. Hamy menghela nafas, lega.
“Haha... belum dibantu kok makasih?” canda temannya yang memang memiliki selera humoris. Hamy tertawa membaca chat laki-laki yang berambut kriting dan bertubuh kurus pendek tersebut. “Tapi, sama-sama, My. Aku bangga ternyata ada temanku yang kreatif dan ingin menjadi penulis seperti kamu,” sanjung Baim kemudian.
“Hahaha.. masak aku kalah sama kamu? Aku harus bisa sepertimu bahkan lebih. Wong makannya yo sama-sama nasi sepiring dan gorengan.” Canda Hamy balik.
Tanpa menunggu besok, Hamy langsung membuka E-mailnya. Matanya bolak-balik dari HP ke laptop. HP ke laptop. Menyamakan alamat email yang Baim kirim kepadanya tadi. Hamy takut salah alamat. Dia tidak mau menunggu dan tertunda ngirimnya. Harap-harap cemas dalam hatinya berdoa “Bismillah, semoga tulisanku ini memang bagus dan layak diterbitkan.”
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12.56 PM. Dia kaget ternyata dia sibuk berkutat dengan tulisannya sudah sangat lama. Dia harus tidur sekarang sebab nanti malam dia harus bangung menunaikan shalat malam bersama Kiai dan santi-santri yang lain. Kalau tidak tidur sekarang bisa berabe nanti urusannya. Dia tidak mau malu lagi, gara-gara ngorok sambil shalat. Berdiri lho ngorok, sindiran Kiainya yang selalu dia ingat sebagai cambuk supaya nantinya tidak molor waktu shalat.
Malam itu terasa sangat tenang dan nyaman. Tenang sekali. Bahkan suara jarum jam yang perlahan-lahan bergerak memutar begitu kentara terdengar di telinganya. Hamy menguap tanda dia sudah mulai terlena dengan bujukan malam. Dia miringkan tubuhnya ke sisi kanan – mengikuti sunnah Rasulullah Saw, tangannya ditelungkupkan di bawah pipi kanan. Matanya sudah terpejam sebelum bibirnya selesai bergeming memohon kepada Allah.
@@@
Jum’at. Pukul 7.17 AM.
Suasana saat ini begitu tenang. Hanya terdengar suara hujan yang jatuh membentur tanah dan rumah warga. Tidak seberisik sebelumnya karena para santri membaca al-Quran dan shalawat ‘Ukasah. Sudah menjadi adat di pondok mahasiswa al-Khoir pada hari Jum’at setelah subuh santri diminta bersama-sama membaca beberapa surat dari al-Qur’an, yaitu surat Yasin, al-Waqi’ah, surat Jumu’ah, surat Fathir, dan terakhir suart al-Kahfi.
Hujannya tidak begitu lebat. Pas untuk malas-malasan di kamar. Di dalam ruangan berukuran 5x7 meter Hamy dan teman dekatnya, Rian, tiduran bareng di kasur yang sudah bolong pada bagian tertentu. Bareng tapi mereka asik fokus dengan HP masing-masing. Rian sedang menonton film anime kesukaannya, maklum penggila anime. Sedangkan Hamy sedang sibuk mengetik di aplikasi WA.
“Assalamu’alaikum, Bapak Ibuk,” kata Hamy kepada orang tuanya lewat HP. “Kulo sampon mareaken tulisan kulo ingkang pertama. Kulo nyuwun pandonganipon Bapak kale Ibuk njeh, mugi-mugi buku kulo niki lan sakterusipon mangke saget bermanfaat kagem sanes lan dipon terbitaken deneng penerbit. Amin.” Lalu Hamy mengirimkan pesannya kepada nomer orang tuanya.
Sesekali matanya yang hitam di balik kaca mata melirik ke arah film anime yang sedang ditonton Rian. Hamy adalah orang yang terlalu suka menghabiskan waktunya hanya untuk menonton anime atau film lain setiap hari apalagi sampai dua jam duduk memandangi laptop menonton film. Mending buat ngetik. Berkarya. Mumpung masih muda. Kalau sudah tua nanti akan menyesal karena tidak melahirkan karya agung ketika muda. Setidaknya dengan berkarya adalah bukti bahwa dia pernah bermanfaat. Ya, kalau butuh refreshing sesekali boleh lah keluar mencari ketenangan. Biasanya Hamy pergi ke tempat sumberan air. Ada kolam alami di sana, enak untuk renang.
Tangan kanannya terasa bergetar. Matanya melihat HP yang ada di tangannya, ada pesan di WA. “Wa’alaikumus salam, Nang. Alhamdulillah, Bapak Ibu senang dengarnya, Nang. Kami di sini selalu mendoakan yang terbaik dari yang terbaik untukmu, Nang. Kamu juga jangan lupa berdoa kepada Allah, ya. Karena Allah yang Maha Kuasa. Hanya Dia yang bisa membantumu, Nang. Bapak Ibu hanya bisa mendukungmu dan mendoakanmu,” dia baca dengan penghayatan yang dalam pesan dari orang tuanya itu. “Dan ingat ya, Nang, kalau sudah sukses nanti jangan sombong. Ingatlah bahwa usaha kerasmu dan hasil yang sudah kamu capai itu semata-mata karena Allah. Kamu tidak bisa apa-apa tanpa-Nya, Nak.”
Hatinya terketuk membaca chat orang tua yang paling dia sayang dan dia pentingkan. Semua prestasi dan kerja kerasnya menulis dia niatkan untuk membahagiakan orang tuanya, bahkan Hamy pernah berfikir tidak peduli dengan tanggapan orang lain melihat usaha kerasnya. Yang terpenting adalah bagaimana dia berusaha mengangkat derajat orang tuanya dengan prestasi.
Njeh Pak Buk, akan kulo inget pesen penjenengan sak lawasipon. Pangestunipon njeh, Bapak Ibu.
“Ya, Nang. Pasti itu.”
Lama tidak ada pesan lagi akan tetapi tiba-tiba HP-nya bergetar lagi. Buru-buru dia menghadapkan HP-nya di depan muka. Ada pesan dari Baim rupanya. Dia membukanya. Penasaran komentar apa yang akan diberikan temennya itu setelah membaca tulisan yang ia kirim tadi malam.
“My,” tulis Baim singkat.
“Iya, Im. Bagaimana pendapatmu? Ada masukan dan saaran?”
“begini, My. Secara keseluruhan sudah bagus untuk ukuran puisi. Tapi ada dua kekurangan di dalam puisimu. Pertama, dalam pengungkapan perasaanmu. Jadi, menurutku, kamu kurang dapat mengungkapkan apa yang kamu mau, yang kamu rasakan, emosi kamu. Ya aku maklumin. Aku dulu juga seperti kamu, menggebu-nggebu mengejar target tapi lupa dengan ruhnya. Biasanya aku, kalau menulis puisi, aku tunggu perasaanku mengendap dan mengental, My. Baru kemudian aku tulis dalam puisi,” mata Hamy mengikuti alur tulisan temannya yang panjang lebar tersebut. “Mengendapkan perasaan itu relatif, tergantung penulisnya. Ada penulis yang menunggu satu bulan baru menulis, dua bulan baru nulis, bahkan ada yang menunggu sampai bertahun-tahun baru bisa menulis puisi.”
“Owalah, seperti itu tho. Ternyata tidak mudah ya menulis puisi. Harus benar-benar melibatkan perasaan, tidak hanya diksi yang indah.” Tanggapan Hamy singkat. Aku tidak mau capek ngetik banyak-banyak. Capek, batinnya.
“Iya, My. Memang susah menulis puisi itu.”
“Tapi kalau menunggu selama itu nanti bagaimana dengan keinginanku untuk nerbitin buku, Im?”
“Ya sudah tidak apa-apa. Kamu lanjutkan perjalanan puisimu ini. Kirimkan saja ke penerbit. Semoga diterima dan bisa dibaca banyak orang. Amin,” hibur Baik agar Hamy tidak merasa tidak ada harapan setelah membaca komentar panjang lebarnya tadi.
“Okey, Im. Nanti aku kirim ke penerbit. Aku sudah baca beberapa penerbit yang bisa menerima naskah antologi puisi kok. Sebelumnya terima kasih banyak, ya, sudah membantu banget.”
“Sama-sama, My. Selamat berjuang menjadi penulis.”
Hamy merebahkan tubuhnya menindih kasur berwarna pink dengan warna putih menyeleret vertikal. Dia merasa capek. Pikirannya penat setelah sekian lama berjuang dari mencari ide, menuliskannya, kemudian mengirimkan naskahnya ke penerbit. Dan kabar baiknya, dia sudah mengirimkan ke redaksi. Di dalam hatinya juga ada semacam perasaan bahagia dan bangga. Ternyata aku bisa berkarya, pikirnya.
“Tapi, aku harus menunggu tiga bulan untuk pengumuman diterima tidaknya naskahku oleh penerbit,” gumamnya dalam hati. “Ah, ternyata ujung-ujungnya aku harus menunggu”
Matanya terpejam rapat. Tarikan nafasnya mulai melembut seiring kesadarannya direnggut lelap yang melalap.

TAMAT






0 komentar:

Posting Komentar