About


Get this widget:

Selasa, 05 September 2017

Keadilan; menunggu pemimpin yang adil

Zaman sekarang Krisis orang-orang yang adil termasuk pemimpinnya. Negara ini membutuhkan orang-orang yg rela mendahulukan hak orang lain dari pada dirinya, menasehati, saling menyayangi, dan menolong dalam hal kebaikan dan ketakwaan. Begitulah kriteria orang yang adil.

Pemimpin yang adil sudah sangat lama dinantikan oleh umat manusia tak terkecuali Indonesia. Pada awal mulanya, bangsa Indonesia memimpikan sang proklamator bung Karno sebagai ratu adil yang akan mengayomi indonrsia, akan tetapi pada realitanya tidak. Kemudian berpindah haluan kepada pak Harto, digadang-gadang akan mensejahterakan rakyatnya, tapi tidak juga. Bj. Habibie pun tidak. Dan kepemimpinan selanjutnya.

Memang, keadilan ini merupakan barang mahal ditengah pasar politik kita. Orang-orang politik masih kere untuk menikmati keadilan, untuk berbusana keadilan. Hukum juga masih "melarat" dan dungu. Bagaimana tidak? Ibu tua yang mencuri pisang satu dihukum bertahun-tahun sedangkan koruptor dibiarkan "leha-leha". Orang judi dihukum 3 tahun sedangkan yg bandar judi malah dibiarkan saja. Aneh to?!

Wawan susetya dalam bukunya yang berjudul "pengembaraan para spiritualis sejati" mengatakan bahwa bangsa Indonesia tidak akan merasakan keadilan, menikmati kehidupan yang damai jika para tikus berdasi belum diadili. Kalaupun dihukum, paling cuma dua tahun. Itupun mewah seperti hotel tempat tidurnya. Tidak sebanding dengan akibat yang ditimbulkan semasa korupsi itu.

Berbeda dengan pemimpin zaman dl. Terutama zaman Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin. Makanya tidak heran jika kehidupan umat Islam dl bisa sejahtera dan maju. Pemimpinnya sangat mengerti dan memahami bagaimana masalah yang dihadapi rakyatnya. Pernah suatu ketika ada seorang wanita mengadu mengakui kesalahannya kepada Rasulullah. Wanita ini telah berbuat zina hingga hamil. Akan tetapi Rasulullah memaafkan wanita tersebut. Meski sudah diampuni oleh Rasulullah, si wanita tetep bersikeras untuk dirajam. Ini tanda bahwa hukum saat itu sangat adil hingga lebih memilih dihukum dr pd dimaafkan. Karena dia merasakan bahwa hukum itu baik untuk dirinya, adil untuk dirinya. Lihatlah sikap Rasulullah tadi, memaafkan. Diindonesia ibu tua nyolong satu buah pisang bukannya dimaafkan malah dihukum bertahun-tahun!

Pemimpin yang adil merupakan pilar keutamaan Agama Islam. Rasulullah sering menasehati betapa pentingnya keadilan. Allah SWT telah berfirman dalam surat annahl: 90; memerintahkan manusia untuk berlaku adil; adil kepada Allah, dirinya sendiri, dan sesama.

Terkadang bahkan harus, keadilan ditegakkan menggunakan sebuah trik atau siasat. Kita belajar dari sejarah nabi Sulaiman ketika menghadapi suatu perkara. Ada dua orang ibu yang mengakui bahwa salah satu mereka sebenarnya adalah ibu dari seorang bayi yang ditemukan di hutan. Setelah mendengar keterangan dari kedua ibu tadi, Sulaiman mengambil sebilah pedang yang hendak dihuniskan membelah tubuh bayi. Ibu yang pertama merasa tenang tidak khawatir melihat pedang tajam telah siap memotong tubuh anaknya. Sedangkan ibu yang kedua menangis sejadi-jadinya memohon kepada Sulaiman agar tidak memotong tubuh anaknya, malah dia rela anaknya diberikan kepada ibu yang pertama. Melihat fenomena tersebut, nabi Sulaiman mengerti siapa ibu bayi tadi. Nabi Sulaiman lantas memutuskan bahwa ibu yang sesungguhnya adalah yang menagis tadi. Sekali lagi, siasat sangat diperlukan jika untuk menegakkan keadilan.

*)Ringkasan buku "pengembaraan para spiritualis sejati" bab 1 karangan wawan susetya.

0 komentar:

Posting Komentar