About


Get this widget:

Minggu, 26 November 2017

Hatta Ya’tiyakal Yaqin


“Entah, ini soal ketakutanku tentang waktu yang akan terbuang sia-sia atau ketakutanku yang belum menemukan jati diriku,” batinku. Karena sampai detik ini, aku belum mampu memantapkan diriku sendiri; mau jadi apa? – antara menjadi penulis atau menjadi seorang komikus. Kedua hal tersebut adalah salah satu hobi yang aku sukai. Menggambar sudah dari kecil, sejak aku duduk di bangku kelas lima MI – terus berkembang sampai sekarang. Meski perkembangannya nggak begitu besar ketimbang temanku, Iqbal – panggilannya. Sedangkan menulis bisa dikatakan hobi baru karena mulai suka menulis ketika aku pertama kali masuk ke MTs. Sunan Barmawi. Aku masih ingat betul jenis tulisan apa yang aku buat waktu itu. Apalagi coba kalau nggak puisi alay bin lebay yang isinya bahas cinta. Ya hal wajar untuk remaja usia segitu.
Dari dua skill – bukan sikel – tersebut, aku menjadi orang yang bingung dan nggak jelas. Bahkan detik-detik kopiku tinggal satu “serutupan” aku masih bengong. Penulis, komik? Penulis, komik?
Sementara itu, temenku – Zaenullah namanya – nggak kalah kalang kabut mikirin jati dirinya. Entah kenapa kita sama-sama bingung. Terlalu banyak ngambil mata kuliah Filsafat kali ya. Hahah... tak lihatin dia sedang asik maini HP-nya. Matanya fokus mengikuti jempolnya ke atas dan ke bawah. Mungkin sedang baca chat – cari info lowongan kerja. Maklum, kita masih pengangguran mencari jati diri.
“Zen, diminum lho kopimu”, tegurku, mencoba mencairkan suasana.
“oh iya. Bentar lagi,” jawabnya. “Masih baca chat WA”, lanjutnya. Kepalanya kembali enghadap ke arah HP. Artinya dia memang sedang fokus.
Malam ini memang terasa dingin. Sisa air hujan sesekali menetes dari atap gerobak nasi kucing, jatuh di lenganku. Tetapi mobil dan motor banyak yang berlalu lalang dengan lampu yang terang – kombinasi putih, kuning dan merah. Indah juga, pikirku. Suara erangan mesinnya juga tak mau kalah mempesona telingaku supaya tidak tuli dari keramaian jalan dan kehidupan. Ada satu isyarat yang harus aku tangkap bahwa hidup itu tidak ada yang sia-sia jika aku mau berfikir dan bertindak.
“pak, nambah air putih hangat, njeh.” Pintaku kepada bapak pemilik angkringan.
“iya, mas.” Jawabnya sambil tangannya meraih gelas, hendak diisi air pesananku.
Sebelumnya udah tau apa itu angkringan tidak? Angkringan adalah gerobak dorong yang di dalamnya terdapat tempat memanaskan air – buat wedang nantinya, dan ada nasi kucing serta goreng-gorengan. Tak ketinggalan juga kopi. Bagiku yang mantap adalah kopi dan nasi kucingnya. Karena murah meriah. Haha. Terutama bagi mahasiswa yang lagi bokek atau tirakat.
Kulihat bapaknya seperti bahagia. Dia menerima dan menjalani hidup ini tanpa “ba-bi-bu”. Yang ada di depannya saat ini adalah tes ujian yang harus dia garap dengan menuliskan jawabannya -  dengan menjalaninya, memanfaatkannya menjadi lebih baik. Tidak hanya berhenti di kepala. Hidup tidak hanya untuk difikirkan saja, tapi juga untuk dijalani.
“Monggo, mas, airnya.” Gelas air putih disodorkan ke arahku. Kulihat wajahnya. Bapak itu tersenyum ramah.
Aku tersenyum kepada bapak angkringan – aku nggak sempet tanya namanya.
Bapak angkringan kembali meladeni pelanggan yang lain. Angkringannya cukup ramai, meski sudah jam sembilan malam. Semua pelanggannya laki-laki. Ada sih tadi aku lihat cewek, pakai kerudung dan sambil mendekap kitab kuning. Anak pondokan. Aku sih kenal banget makhluk unik ini. Kan aku juga termasuk makhluk unik ini. Tapi bedanya aku gak jelas. Kalau mbak-mbaknya jelas.
kok bisa nggak jelas?
Bisa lah. Wong aku bandel, sering keluar malam, dan kalau ada acara aku sering banget gak pamit – pamitnya pas pulang selesai acara. Terus dimarahi sama Kiai. Okey, jangan bahas soal ini terlalu jauh. Takut dibaca sama bapak ibuku nanti. Nggak dapet uang jajan payah aku.
Kuteguk sedikit air putih untuk menghilangkan rasa gatal di tenggorokanku habis minum kopi. Nggak tanggung-tanggung kalau aku minum kopi. Dua jenis kopi aku minum. Ada kopi hitam dan kopi GoodDay. Sebetulnya nggak aku saja yang minum kopi ini. Aku joinan sama Zaenullah. Kulirik dia masih nyaman aja gesek-gesek layar HP-nya.
Aku berusaha mengajaknya berbicara yang berarti supaya tidak sia-sia waktu dua jam dari tadi. Aku bertanya dua hal yang masih mengganjal di kepalaku – membuatku pusing juga. Siapa tahu dia punya saran. Kan dia juga kritis kalau soal kehidupan. Toh dia juga lebih tua dariku – lebih banyak makan garam.
“Aku cocoknya jadi penulis apa pembuat komik, Zen?”
“Menurutku, kamu lebih pantas jadi peneliti.” Jawabnya sambil menyulut rokok. HP-nya sudah dilepas ternyata.
“Hah? Peneliti apa?” Aku bingung. Cocok dari mana aku jadi peneliti.
“Peneliti dan pengamat pendidikan, Mid,” jawabnya setelah sejenak menyedot rokoknya.
Kok kamu bisa bilang seperti itu, alasannya?” tanyaku lagi semakin penasaran.
“Dari artikel-artikelmu. Artikelmu tadi yang tentang kritik setrategi pendidikan active learning dan strategi Konvensional juga bagus,” jelasnya.
Jujur, aku sedikit senang dipuji tulisanku. Karena, secara aku nggak bisa nulis dan nggak ada yang bilang tulisanku bagus. Tapi dia? Malah bilang tulisanku bagus.
Tapi ya, terimakasih banyak atas pujiannya.
“Tetapi peneliti atau pengamat pendidikan ini yang dimaksut pendidikan yang murni pendidikan to? Tidak pendidikan yang ada di Kemendiknas,  kemendikbud atau yang ada unsur politiknya to? Sebab, maaf, aku nggak suka membahas yang ada politiknya gitu. Disamping gak suka, aku juga gak paham apa dan bagaimana politik.” Timpalku.
Aku mulai tertarik membahas ini. Aku suka berdiskusi tentang segala hal. Ingat, bukan tentang politik. Diskusi bagiku adalah rukun untuk mendapatkan ilmu. Boleh aku singgung sedikti tentang rukun tersebut? Hitung-hitung tambah pengetahuan. Ada tiga hal jika kita ingin apa yang kita pelajari menancap betul di dalam hati, yaitu membaca, menulis dan mendiskusikannya. Kalau ketiganya sudah dipenuhi, maka, Insya Allah, ilmu itu tidak akan mudah hilang dari ingatan kita. Apalagi jika ilmu itu kita amalkan dan kita peraktekan. Lebih jossss!
“Iya yang murni pendidikan. Aku juga kalau ngomong soal politik, aku nggak “ngeh”, nggak ngerti.” Tangannya meraih kopi hitam lalu srutup...
Mulutnya yang hitam – karena rokok – ditutup rapat-rapat, tanda sedang menikmati kopi yang ada di dalam mulutnya. Kebiasaan para “Penikmat kopi”. Lama banget kalau ngadepin kopi. Beda dengan “Peminum kopi” seperti aku. Minum kopi ya kaya minum air putih. “glok-glok-glok”, habis.
Malam semakin larut. Jalan pun mulai sepi. Kulihat pelanggan yang tadi ramai memenuhi bangku duduk yang berjejer di sekitar grobak, kini sudah “suwung”[1]. Udara dinginnya justru makin ramai menusuk kulitku. Bapak angkringan juga sudah memberesi dagangannya. Hla aku? Jati diriku? Belum ketemu?
Memang belum jelas siapa aku? Jati diriku apa? Belum jelas. Aku masih mencarinya dengan berpikir kemudian melaksanakan pikiranku. Itulah kenapa diciptakannya masa muda. Supaya kita berpikir dan bertindak untuk “modal” masa depan. Memang saat ini belum terlihat, belum bisa dirasakan. Tetapi, nekatlah untuk masa depan yang mulia. Mumpung masih muda. Kalau sudah tua, terus kamu hanya berfikir menyesali tanpa bisa memperbaiki, mending perbaiki sekarang.
Jadilah oranga yang tidak jelas jati dirimu siapa. Karena kau terlalu sibuk menggali potensimu dengan mencintai segala hal, hobi dan ilmu yang kamu lihat. Karena, juga, hasil tidak pernah mengecewakan usaha.
Aku tersenyum. Aku harus nulis habis ini!
Aku dan Zaenullah balik pulang ke pondok. Kami naik motor. Dia yang nyetir dan aku yang bonceng. Motor sudah berjalan pelan membawa kami pergi menjauh meninggalkan jiwa yang ragu – ketidakjelasan mau ngapain dan mau jadi apa - menuju keyakinan bahwa aku harus menulis ide ini. Aku harus sukses. Hatta ya’tiyakal yaqiin.
Dua jam lebih tadi ternyata bermanfaat. Hasil adalah soal waktu ternyata. Yang penting usaha. Tidak perlu cemas dan takut akan waktumu. Asalkan kita tetap melangkah merasakan kerikil kehidupan. Meski terkadang kita harus mencabut duri yang menancap di telapak kaki kita nantinya. Meringis sebentar, bahkan menangis. Namun kita wajib bangkit dan berjalan lagi.
“Itu hal yang wajar dalam hidup. Itu adalah rukun kehidupan yang harus dipenuhi, kalau nggak, hidupmu akan batal.”




*)cerita di atas adalah fiktif. sekedar membangkitkan semangat kita. jika adalah salah kata, saya pribadi mohon maaf yang sebesar-besarnya. :) :)
selamat membaca...

[1] Suwung (bahasa Jawa) yang artinya sepi, tidak ada orang.

0 komentar:

Posting Komentar